Monthly Archives: Oktober 2009

Flu Burung

FLU BURUNG (AI)

Apa yang Dimaksud dengan flu burung (AI)?

Flu burung (AI) adalah penyakit pada unggas bersifat asimptomatis, menyebabkan kematian yang fatal dan bersifat perakut-akut sampai medium akut yang disebabkan oleh virus AI famili Othomyxoviridae. Virus AI dibagi ke dalam subtype berdasarkaan permukaan glikoprotein Haemagglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Sampai saat ini dikenal 15 jenis HA (H1-15) dan 9 jenis NA (N1-9), tetapi yang paling ganas H5 dan H7 ini terjadi pada unggas.  Reservoar alami virus ini yaitu unggas air dan burung liar, selain sebagai reservoar juga dapat sebagai sumber penularan.

AI tergolong penyakit eksotik di Indonesia dan menyerang pada unggas dan bisa menyerang manusia (zoonosis).

Mengapa Flu Burung (AI) Sangat Ditakuti ?

  • Flu Burung (AI) bersifat zoonosa artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia, demikian juga sebaliknya.
  • Terjadi angka kematian yang sangat tinggi dan cepat hingga 90 % dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak juga menyebabkan kematian pada manusia.

Apa Sumber Penularan flu burung (AI) ?

Sumber Penularan Flu burung (AI) :

  • Unggas (ayam, itik, angsa dan burung) penderita AI.
  • Discharge nasal (lendir hidung) dan liur unggas penderita AI.
  • Pakaian, sepatu, mobil, tempat pakan, tempat minum dan orang yang tercemar Virus AI.
  • Udara dan air yang mengandung partikel Virus AI.

Bagaimana Cara Penularan Flu Burung (AI) ?

Pada Manusia Flu burung (AI) ditularkan dengan cara :

Memakan daging ayam atau bahan olahan asal ayam yang menderita AI dan tidak dimasak secara benar.
Menghisap udara yang tercemar Virus AI yang telah mengalami mutasi pada hewan perantara yaitu Babi.

Pada Unggas (ayam, itik,entok,angsa, dll) :

Ayam makan dan minum air yang tercemar virus AI.

  • Kontak langsung dengan ayam penderita AI.
  • Menghisap udara yang tercemar oleh virus AI.

Bagaimana Tanda-Tanda Flu Burung (AI) pada Ayam ?

Gejala Klinis Flu burung (AI) Pada Ayam dan unggas Lain :

  • Perakut/akut (highly patogenic) : Kematian mendadak dengan sangat cepat pada suatu lokasi farm tanpa menampakkan gejala klinis.
  • Sub akut /ringan (low patogenic) :
  1. Depresi, anoreksia, lemah, berak putih kehijauan dan agak encer.
  2. Sianosis dan odema pada jengger, pial dan otot (terutama otot dada dan paha).
  3. Odema sub cutan pada kepala terutama pharynx (dagu).
  4. Perdarahan petekial dan ekimotik pada kaki.
    1. Gangguan pernapasan seperti sesak, batuk, ngorok, keluar leleran dari mulut dan hidung.
    2. Perdarahan sub kutan ( Dibawah kulit)

Bagaimana Tanda-Tanda Flu burung (AI) pada Manusia ?

Tanda- Tanda Flu burung (AI) pada Manusia :

  • Demam
  • Sesak napas
  • Kulit berwarna kebiruan (cyanosis)
  • Untuk lebih pasti hubungi PUSKESMAS terdekat atau Dokter.

Bagaimana Tindakan Pencegahan Flu Burung (AI)?

Pada Hewan atau Ternak.

  • Selalu menjaga kebersihan kandang dengan penerapaan Bioscurity yang ketat.
  • Vaksinasi di daerah tertular dengan menggunakan vaksin inaktif (killed vaccine).  Program vaksinasi pada ayam petelur dilakukan pada umur 4-7 hari dengan dosis 0,2 ml dibawah kulit pada pangkal leher, 4-7 minggu dengan dosis 0,5 ml di bawah kuli pada pangkal leher, umur 12 mingu  0,5 ml di otot dada dan diulang setiap 3-4 bulan dengan dosis 0,5 ml pada otot dada.  Pada ayam pedaging dilaksanakan pada umur 4-7 hari dengan dosis 0,2 ml di bawah kulit pada pangkal leher.

Pada Manusia

  • Mencuci bersih bahan makanan sebelum dimasak.
  • Memasak bahan makanan asal hewan sampai matang sempurna (Dimasak pada suhu 80o C selama  5 menit).
  • Cuci tangan sebelum makan.

Perlu diperhatikan

  1. Hewan/ Ternak penderita Avian Influenza harus diisolasi di kandang sehingga tidak kontak dengan hewan lainnya.
  2. Hewan atau ternak yang mati akibat Avian Influenza(AI) harus secepatnya dimusnahkan dengan cara dibakar dan dikubur ke dalam lubang sedalam  ± 2,5 meter diberi kapur 1 atau 2 meter dari permukaan tanah dan ditimbun kembali dengan tanah.
  3. Kandang dan peralatan serta bahan-bahan lainnya yang tercemar spora atau kuman Avian Influenza (AI) harus didesinfeksi atau dibakar.
  4. Pemusnahan unggas secara menyeluruh (stamping out) di daerah tertular baru.  Pemusnahan dilakukan terhadap ayam yang sakit dan yang sehat dalam radius 1 km dari peternakan tertular tersebut.

Beternak Sapi Perah

PROSPEK USAHA SAPI PERAH

A. kebutuhan Susu di Indonesia

Pada dasarnya, antara persediaan dan permintaan susu di Indonesia terjadi kesenjangan yang cukup besar. Kebutuhan atau permintaan jauh lebih besar daripada ketersediaan susu yang ada. Berdasarkan kondisi tersebut, usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif.

Susu yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia umumnya berupa susu hasil olahan.   Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat belum terbiasa minum susu dalam keadaan segar. Kebiasaan seperti ini mengakibatkan susu segar yang dihasilkan peternak sapi perah lebih banyak dijual ke pabrik atau  Industri Pengolahan Susu (IPS) sebagai bahan baku susu olahan.

Kebutuhan susu olahan di Indonesia sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi baru terpenuhi dari dalam negeri sekitar 32 %, sisanya 68 % harus diimpor dari luar negeri. Dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya yang konsumsi susunya sudah mencapai lebih dari 20 kg/ kapita /tahun, kebiasaan masyarakat Indonesia untuk minum susu sebaiknya ditingkatkan.

Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, susu banyak dikonsumsi dalam bentuk olahan. Beberapa jenis susu olahan yang beredar di masyarakat sebagai berikut :

  1. Susu bubuk (powder milk) yang diolah dengan cara dipanaskan sehingga airnya menguap dan yang tertinggal hanya bahan keringnya saja (BK), sehingga terbentuk susu bubuk.
  2. Susu kental manis, yaitu susu yang diuapkan airnya, sehingga bahan keringnya minimal tinggal 31 % dan lemak 9 % ditambah gula minimal 40%.
  3. Susu skim, yaitu susu yang diambil krim atau lemaknya.
  4. Filled milk, yaitu susu skim ditambah lemak tumbuhan sebagai pengganti lemak susu
  5. Susu gula minyak, yaitu susu skim ditambah gula dan minyak.
  6. Mentega, yaitu krim atau lemak susu yang diolah dengan cara diputar atau diaduk dalam tong susu.
  7. Keju, yaitu susu ditambah rennin (enzim didalam lambung anak hewan mamalia) dengan cara dibekukan.
  8. Youghurt yaitu susu ditambah starter berupa bekteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcos thermophillus. Bakteri ini membuat rasa enak dan mempermudah usus dalam mencernanya.
  9. Kefir atau susu ditambah yeast (ragi) dan bakteri asam laktat.
  10. Dali atau susu ditambah papain atau enzim papaya yang diambil dari getah pepaya yang dibekukan.
  11. Es krim, yaitu produk susu yang dibuat dari campuran susu (susu skim dan krim), gula, flavor (vanili atau coklat). Campuran tersebut kemudian dibekukan didalam alat pembuat es krim.

B. Keuntungan Usaha Peternakan Sapi Perah.

  1. Peternakan sapi perah termasuk usaha yang tetap, dari tahun ke tahun variasi konsumsi susu tidak banyak berubah, tidak ada musiman dan harga susu tidak banyak mengalami perubahan.
  2. Sapi perah sangat efisien dalam mengubah pakan menjadi protein hewani yaitu sebesar 33,6 % dan kalori sebesar 25,8 %.
  3. Jaminan pendapatan yang tetap, peternak sapi perah bisa memperoleh hasil dalam dua minggu atau sebulan sekali dan berlangsung secata tetap sepanjang tahun.
  4. Tenaga kerja yang tetap, usaha peternakan sapi perah menggunakan tenaga kerja secara terus menerus sepanjang tahun.
  5. Pakan yang relative mudah dan murah.
  6. Kesuburan tanah dapat dipertahankan dengan menggunakan kotoran sapi sebagai pupuk kandang.
  7. Sapi perah dapat menghasilkan pedet sebagai keuntungan lain.

C. Kelemahan Usaha Peternakan Sapi Perah.

Beberapa kelemahan usaha peternakan sapi perah sebagai berikut :

  1. Memerlukan modal yang relative lebih besar dibandingkan dengan usaha peternakan lain.
  2. Memerlukan manajer atau peternak yang terampil dan memiliki pengetahuan dan administrasi bisnis yang memadai dalam budidaya sapi perah.
  3. Usaha Peternakan sapi perah hanya bisa dilaksanakan di daerah-daerah tertentu.
  4. Adanya saingan berupa susu impor, sehingga harga susu dalam negeri harus lebih murah.

D. Persayaratan Menjadi Peternak Sapi Perah.

Untuk menjadi peternak sapi perah yang baik, peternak harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Mempunyai rasa sayang pada hewan.
  2. Mempunyai ketekunan dalam bekerja untuk waktu yang lama.
  3. Mempunyai pengetahuan dasar-dasar pemuliaan sapi perah, yaitu system perkawinan dan seleksi, pemberian pakan dan tatalaksana perkandangan sapi perah yang baik.
  4. Mengetahui masalah rumput atau hijauan sebagai pakan dan cara-cara menanam rumput atau hijauan tersebut.
  5. Mempunyai jiwa, semangat kerja sama dan hubungan yang baik dengan peternak lain.
  6. Dapat mengatasi kekecewaan.
  7. Dapat mengambil keputusan-keputusan yang baik dan tepat.
  8. Mempunyai kesabaran dan keikhlasan.

PEMELIHARAAN SAPI PERAH

A. Masa Praproduksi

Pada masa praproduksi, paling tidak ada 3 hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan, yaitu lahan untuk kandang dan tempat menanam rumput, ketersediaan air serta keberadaan bibit sapi perah.

Persiapan lahan.

lahan untuk kandang .

Lahan yang dibutuhkan untuk kandang berdasarkan keadaan sapi perah terbagi menjadi tiga,  yaitu :

Kandang seekor sapi masa produksi membutuhkan lahan seluas 380 x 140 cm = 5,32 m2. Luas lahan ini sekaligus termasuk selokan, jalan kandang dan tempat pakan.

Kandang sapi dara siap bunting sampai bunting membutuhkan lahan 12 x 20 m2 = 240 m2 untuk 10 ekor. Dalam hal ini sapi dara dilepaskan secara berkelompok.

Kandang seekor pedet membutuhkan lahan seluas 150 x 120 cm2 = 1,8 m2

Lahan untuk Penanaman Rumput

Usaha peternakan sapi perah sangat tergantung pada ketersediaan pakan hijauan. Pakan berupa hijauan ini bisa diperoleh dari lahan Pertanian dan hasil budidaya atau penanaman secara khusus. Agar peternak memiliki persediaan hijauan, keberadaan lahan untuk penanaman rumput mutlak diperlukan. Lahan untuk kebutuhan ini disesuaikan dengan jumlah sapi perah yang dipelihara. Menurut pengalaman , lahan seluas 1 ha bisa memenuhi kebutuhan hijauan sekitar 10 – 14 ekor sapi dewasa selama satu tahun.

Ketersediaan Air

Air mutlak dibutuhkan dalam usaha peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan susu yang dihasilkan 87% berupa air dan sisanya berupa bahan kering.Untuk mendapatkan  1 liter air susu, seekor sapi perah membutuhkan 3,5 – 4 liter air minum.  Dalam peternakan ini, air digunakan untuk minum sapi, memandikan sapi dan membersihkan kandang. Khusus untuk minum, sebaiknya sapi diberi minum secara ad libitum atau ada setiap saat.

Bibit

Bibit sapi perah yang akan dipelihara sangat menentukan keberhasilan usaha ini. Pemilihan bibit sebaiknya dipersiapkan dengan matang dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Genetik atau keturunan

Bibit sapi perah harus berasal dari induk yang produktivitasnya tinggi dan pejantan yang unggul. Hal ini disebabkan sifat unggul kedua tetua akan menurun kepada anaknya.        Akanlebih baik lagi jika bibit tersebut berasal dari induk yang produktivitasnya tinggi yang dikawinkan dengan pejantan unggul (elite bull). Cara mengetahui garis keturunan adalah dengan menelusuri keterangan kedua tetua dan nenek moyangnya.

Bentuk ambing

Bentuk ambing pada sapi perah dapat menentukan kuantitas dan kualitas susu yang akan dihasilkan. Ambing yang baik adalah ambing yang besar, pertautan antarotot kuat dan memanjang sedikit kedepan, serta puting tidak lebih dari empat.

Eksterior atau Penampilan

Secara keseluruhan, sosok bibit sapi perah harus proporsional, tidak kurus dan tidak terlalu gemuk, kaki berdiri tegak dan jarak kaki kanan dan kaki kiri cukup lebar (baik kaki depan maupun belakang), serta bulu mengkilat. Perlu diketahui, besar tubuh tidak menjamin atau tidak menentukan kuantitas atau jumlah susu yang dihasilkan dan ketahanannya  terhadap penyakit.

Umur bibit

Umur bibit sapi perah betina  yang ideal  adalah 1,5 tahun dengan bobot badan sekitar 300 kg. sementara itu,  umur pejantan 2 tahun dengan bobot badan sekitar 350 kg.

B.    Masa Produksi

Pada masa produksi, peternak harus melakukan manajemen seccara optimal, sehingga hasil yang diperoleh optimal pula. Ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan pada masa produksi ini, karena tahapan-tahapan ini  memmpengaruhi produksi, yakni kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan. Tahapan-tahapan yang dimaksud meliputi manajemen perkandangan, tata laksana pemberian pakan, pengaturan  perkawinan, pengendalian penyakit, dan metode pemerahan.

a. Manajemen Perkandangan

Kandang sapi perah yang baik adalah kandang yang sesuai dan   memenuhi persyaratan kebutuhan dan kesehatan sapi perah. Persyaratan umum kandang untuk kandang sapi perah sebagai berikut :

  1. Sirkulasi udara cukup dan mendapat sinar matahari, sehingga kandang tidak lembap. Kelembapan ideal yang dibutuhkan sapi perah adalah 60-70%
  2. Lantai kandang selalu kering.
  3. Tempat pakan yang lebar sehingga memudahkan sapi dalam mengonsumsi pakan yang disediakan.
  4. Tempat air dibuat agar air selalu tersedia sepanjang hari.

b.  Jenis Kandang Berdasarkan Peruntukannya

Jika dilihat dari peruntukannya, kandang sapi perah dapat dibagi menjadi 5 jenis kandang, yakni kandang pedet (0-4 bulan), kandang sapi remaja (4-8 bulan), kandang sapi dara (8 bulan-2 tahun), kandang  sapi dewasa (lebih dari 2 tahun dan masa laktasi), dan kandang sapi yang akan beranak.

Kandang Pedet 0-4 Bulan

Pedet yang berusia 0-4 bulan harus dibuatkan kandang sendiri agar tidak bercampur dengan pedet atau sapi lainnya. Bisa pula dibuatkan penyekat atau penghalang antar kandang. Hal ini disebabkan pedet sangat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan pedet memiliki nnaluri menyusu sehingga jika disatukan bias saling mengisap dan menjilat. Kandang pedet lajimnya dibuat dari bahan bamboo atau kayu berukuran 95x150x130 cm (lebar  95 cm, panjang  150 cm, dan tinggi 130 cm).

Kandang Pedet Lepas Sapih (4-8 bulan)

Kandang yang diperlukan untuk pedet lepas sapih berusia 4-8 bulan berupa kandang system kelompok di dalam kandang koloni. Hal ini dimaksudkan agar sapi-sapi remaja ini lebih bebas bergerak sehingga tulang dan badannya kuat dan tidak terjadi persaingan dalam mendapatkan pakan. Karenanya, tempat pakan, tempat minum, dan tempat berteduh dibuat terpisah

Kandang Sapi Dara (8 bulan-2 tahun)

Kandang sapi dara dapat dibuat dengan  system koloni agar memudahkan pengontrolan saat birahi. Namun, jika kandang khusus sapi dara ini tidk ada (karena tidak mugkin dibuat akibat lahan yang terbatas), sapi dara bisa ditempatkan di kandang sapi dewasa.

Kandang Sapi Dewasa  atau Masa Produksi (Lebih dari 2 tahun dan Laktasi)

Sapi yang telah berproduksi dikelompokan dalam satu kandang. Pengelompokan ini sebaiknya berdasarkan tingkat produksi susu, sehingga sapi yang berproduksi tinggi tidak tidaak bercampur dengan sapi yang produksinya rendah. Dengan pengelompokan seperti ini, manajemen atau tata laksana pemberian pakan dapat dilakukan secara optimal.

Kandang sapi dewasa biasanya dibuat satu jajar dengan jumlah genap, karena satu bak air disediakan untuk 2 ekor sapi. Kandang per ekor sapi adalah panjangnya 180-200  cm, lebar 135-140 cm, lebar saluran kotoran 30-40 cm, dan lebar tempat pakan 80-100 cm.

Kandang Sapi Kering Kandang

Keberadaan kandang untuk sapi yang akan beranak atau kandang kering kandang sangat penting. Hal ini disebabkan  sapi yang akan beranak memerlukan exercise atau latihan persiapan melahirkan (bias  berupa jalan-jalan di dalam kandang) untuk merangsang kelahiran normal. Di kandang ini, sapi tidak diperah susunya selama sekitar 2 bulan. Dengan demikian, pakan yang di makan hanya untuk kebutuhan anak yang berada didalam kandungannya  dan kebutuhan hidupnya dalam mempersiapkan kelahiran.      Kandang sapi kering dapat dibuat secara koloni  untuk 3 – 4 ekor sapi tanpa disekat  satu sama lain. Ukuran ideal kandang sapi kering per ekor adalah 2-2,5 x 7 x 1 m (lebar 2-2,5 m , panjang 7 m dan tinggi 1 m).  Ukuran tempat pakan sama dengan ukuran tempat pakan di kandang sapi masa produksi , tempat pakan ini bias ditempatkan di tengah kandang.

C. Pengaturan Perkawinan.

Sapi-sapi yang dipelihara harus teridentifikasi dengan benar, yaitu diberi nomor telinga dan nama, hal ini diperlukan untuk mengetahui silsilah, baik induk maupun bapaknya, potensi produksi, umur sapi dan masa laktasi atau masa produksi.

Pemeliharaan pada Masa Pedet sampai Dara.

Jika pemeliharaan cukup baik, birahi pertama akan terjadi saat sapi berumur 14 – 16 bulan. Birahi pertama lebih banyak ditentukan oleh kondisi dan besar tubuhnya dibandingkan dengan dewasa kelamin.

Pengaturan Perkawinan saat Laktasi.

Jumlah sapi yang bunting sebaiknya tidak kurang dari 60 % jumlah sapi dewasa. Hal ini dimaksudkan agar produksi susu dapat dipertahankan sepanjang waktu, sehingga tidak terjadi masa banjir susu dan masa kering. Sebaiknya, 40 – 60 hari setelah beranak sapi dikawinkan kembali. Perkawinan sapi tersebut tidak boleh lebih dari 3 bulan sejak beranak. Sapi perkawinan yang berproduksi tinggi  dapat dilaksanakan sampai dengan 4 bulan masa laktasi. Hal ini dimaksudkan agar tercapai puncak produksi yang maksimal.

Metode perkawinan.

Perkawinan sapi perah dapat dilaksanakan dengan 2 cara :

  • kawin alam
  • kawin suntik (inseminasi buatan atau IB).

Periode birahi rata-rata 21 hari sekali, tetapi dapat pula sapi-sapi yang memiliki periode birahi bervariasi dari 17 – 26 hari. Lama masa birahi ini berlangsung selama 6 – 36 jam dengan rata-rata  18 jam untuk sapi betina dewasa dan 15 jam untuk sapi dara.

Tanda-tanda umum birahi sapi perah sebagai berikut :

  1. Sapi betina yang sedang birahi akan menaiki sapi betina yang lain.
  2. Sapi gelisah dan berjalan mondar-mandir.
  3. Keluar cairan yang kental, jernih dan berkaca-kaca dari alat kelaminnya.
  4. Kemaluan (vulva) berwarna merah, bengkak dan hangat.

Meskipun demikian ada pula beberapa sapi yang mempunyai sifat-sifat birahi diam (silent heat), yaitu sapi tidak memperlihatkan gejala-gejala birahi yang jelas seperti yang telah disebutkan.      Untuk mendapatkan persentase kebuntingan yang tinggi, biasanya dipakai pedoman perkawinan yang tepat. Perkawinan ini harus dilaksanakan dengan benar dan tepat waktu, karena masa berahi menentukan keberhasilan perkawinan dan kesehatan sapi yang jelas

Pedoman cara mengawinkan sapi perah berdasarkan waktu berahinya.

Birahi Dikawinkan Dikawinkan
  1. pagi ini
  2. Sesudah pukul 12.00
Harus hari ini

Harus siang ini atau besok pagi sebelum pukul 12 siang

Besok pagi akan terlambat

Besok sesudah pukul 12 siang akan terlambat.

E. Metode Pemerahan

Waktu Pemerahan

Pemerahan dilakukan 2 kali sehari , yaitu pada pagi dan sore hari. Namun jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari yakni pagi, siang dan sore hari.

Jarak pemerahan

Jarak pemerahan dapat menentukan jumlah susu yang dihasilkan. Jika jaraknya sama, yakni 12 jam, jumlah susu yang akan dihasilkan pada waktu pagi dan sore hari sama. Namun jika jarak pemerahan tidak sama, maka jumlah susu yang dihasilkan pada sore hari akan lebih sedikit daripada pagi hari.

Cara Pemerahan

Pemerahan yang baik dilakukan cara yang benar dan alat yang bersih.

Persiapan pemerahan.

  • membersihkan kandang dari segala kotoran.
  • Mencuci daerah lipat paha sapi yang akan diperah.
  • Memberi konsentrat kepada sapi yang akan diperah, sehingga ketika dilakukan pemerahan sapi sedang makan dan dalam keadaan tenang.
  • Membersihkan alat-alat pemerahan susu(ember dan alat takar susu) dan susu.
  • Membersihkan tangan pemerah (jika dilakukan secara manual dengan tangan).
  • Mencuci ambing dengan air bersih, kemudian melapnya dengan lap bersih.
  • Membersihkan mesin pemerah, terutama karet penyedot yang berkontak langsung dengan ambing (jika pemerahan dilakukan dengan mesin pemerah). Karet penyedot ini harus dibersihkan dengan air panas.
  • Melakukan uji mastitis setiap sebelum melakukan pemerahan

Teknik pemerahan

Setelah tangan pemerah dan ambing dicuci bersih, pemerahan dilakukan menggunakan kelima jari tangan dengan tahapan sebagai berikut :

  • Tekan ibu jari dan jari telunjuk dengan posisi melingkari pangkal putting, sehingga susu tidak dapat kembali keputing.
  • Tekan jari tengah ke puting susu agar susu memancar keluar.
  • Tekan jari manis ke putting dan perah menggunakan tekanan yang tetap, tetapi putting jangan ditarik kebawah.
  • Akhirnya tekan jari kelingking  ke putting dan perahlah dengan seluruh jari tangan sampai susu keluar semua.
  • Lepaskan tekanan tangan dari putting dengan membuka semua jari, sehingga putting berisi susu kembali.  Ulangi cara tersebut menggunakan tangan yang lain.
  • Jika susu yang keluar sudah sangat sedikit, tekan ambing menggunakan siku dan periksa apakah susu telah keluar semua. Kadang-kadang menekan ambing menggunakan siku membuat sisa-sisa susu masuk kedalam putting
  • Agar sisa-sisa tersebut keluar, perahlah putting menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
  • Setelah selesai diperah, putting dibersihkan dan disemprot atau dicelupkan ke larutan disinfektan agar bakteri tidak masuk kedalam lubang putting susu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS,

KUANTITAS DAN SUSUNAN SUSU SAPI PERAH

A. Bangsa atau Rumpun Sapi

Setiap bangsa sapi mempunyai sifat-sifat yang berbeda dalam menghasilkan susu, serta kadar lemak dan warna susu yang dihasilkan. Jumlah susu yang dihasilkan sapi FH tertinggi jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa sapi perah lainnya, baik didaerah iklim sedang maupun didaerah tropis. Bangsa sapi juga menentukan susunan susu yang dihasilkan, seperti tertera dai tebel berikut ini :

Bangsa Sapi

Air

(%)

Protein (%)

Lemak

(%)

Laktosa

(%)

Abu

(%)

BK

(%)

Jersey

Guernsey

Ayrrshire

FH

Shorthorn

85,27

85,45

87,10

88,01

87,43

3,80

3,84

3,34

3,15

3,32

5,41

4,98

3,85

3,45

3,36

5,04

4,98

5,02

4,65

4,89

0,75

0,75

0,69

0,68

0,73

14,73

14,55

12,90

11,57

12,57

B. Lama Bunting

Sapi yang telah dikawinkan dan bunting akan menghasilkan susu lebih sedikit dari susu yang tidak bunting. Lama bunting sapi perah adalah 9 bulan. Produksi susu akan semakin menurun terutama saat sapi bunting 7 bulan sampai beranak.

C. Masa Laktasi

Masa laktasi adalah masa sapi sedang menghasilkan susu yaitu selama 10 bulan antara saat beranak dan masa kering. Produksi susu perhari mulai menurunsetelah laktasi dua bulan. Demikian pula kadar lemak susunya, mulai menurun setelah 1 – 2 bulan masa laktasi. Dari 2 – 3 bulan masa laktasi, kadar lemak susu mulai konstan, kemudian naik sedikit.

D. Besar Sapi.

Sapi-sapi yang badannya besar akan menghasilkan susu yang lebih banyak daripada sapi-sapi yang berbadan kecil, meskipun bangsa dan umurnya sama. Hal ini disebabkan sapi yang badannya besar akan makan lebih banyak, sehingga menghasilkan susu yang lebih banyak karena metabolisme tinggi.

E. Estrus atau Birahi.

Saat sapi mengalami birahi biasanya produksi susunya menurun.

F. Umur Sapi

Sapi- sapi yang beranak pada umur yang lebih tua  (3 tahun) akan menghasilkan susu  yang lebih banyak daripada sapi-sapi yang beranak pada umur muda (2 tahun). Produksi akan terus meningkat dengan bertambahnya umur sapi  hingga berumur 7 – 8 tahun. Setelah umur tersebut , produksi akan menurun sedikit demi sedikit sampai umur 11 – 12 tahun. Hal ini disebabkan kondisi tubuh telah menurun dan senilitas (ketuaan).

G. Calving Beranak atau Selang Beranak.

Selang beranak yang optimal adalah 12 dan 13 bulan. Jika selang beranak diperpendek akan menurunkan produksi susu sebesar 3,7 – 9 % pada laktasi yang sedang berjalan atau yang akan dating. Jika selang beranak diperpanjang sampai 450 hari, laktasi yang sedang berlaku dan laktasi yang akan dating akan meningkatkan susu yang dihasilkan sebesar 3,5 %. Meskipun demikian, jika ditinjau dari segi ekonomi akan merugikan karena susu yang dihasilkan tidak sepadan jika dibandingkan dengan pakan yang diberikan.

H. Masa Kering.

Produksi susu pada laktasi kedua dan berikutnya dipengaruhi oleh lamanya masa kering yang lalu atau sebelumnya. Pada setiap individu sapi betina, produksi susu akan naik dengan bertambahnya masa kering sampai 7-8 minggu.

I    Frekuensi Pemerahan.

Pemerahan dilakukan 2 kali sehari , yaitu pada pagi dan sore hari. Namun jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari yakni pagi, siang dan sore hari. Semakin sering sapi diperah, hasil susu akan naik seperti yang ditunjukan oleh tabel berikut :

Umur Sapi Diperah 3 kali sehari Diperah 4 kali sehari
2 tahun3 tahun

4 tahun

20% lebih banyak daripada 2 kali diperah17 % lebih banyak daripada 2 kali diperah

15 % lebih banyak daripada 2 kali diperah

35 % lebih banyak daripada 2 kali diperah30 % lebih banyak daripada 2 kali di perah

26 % lebih banyak daripada 2 kali diperah

Beternak Sapi Potong

PENDAHULUAN

Pada saat ini dunia peternakan indonesia sudah berkembang cukup pesat.  Para pemilik modal sudah tidak melirik sebelah mata lagi terhadap sektor satu ini.  Peternakan yang dijalankan dengan skala komersial dan dikelola serius bertebaran di semua daerah.  Pada kenyataannya, usaha peternakan memang menjanjikan keuntungan yang lumayan.

Definisi ternak secara umum adalah hewan yang dibudayakan manusia dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau keuntungan dari hewan tersebut.  Keuntungan atau manfaat yang diperoleh dapat berupa daging, kulit, telur, susu maupun bahan lain yang berguna bagi manusia.

Ada  bermacam-macam jenis hewan yang biasa diternakkan.  Akan tetapi, tidak semuanya bernilai komersial.  Komersial disini diartikan dapat memberikan keuntungan bagi peternaknya dan memiliki prospek yang cerah dalam pemasarannya.  Dengan demikian ternak komersial mempunyai pengertian hewan yang dipelihara dan mampu memberikan keuntungan bagi pemiliknya serta banyak diminta pasar.

Salah satu ternak komersial yang telah berkembang pesat di Indonesia yaitu sapi potong.  Dengan konsumsi daging sapi perkapita naik 3,07 % pertahun, menunjukkan masih terbukanya peluang bagi pengembangan sapi potong.

JENIS- JENIS SAPI POTONG

Sapi potong yang diternakkan di Indonesia amat berragam jenisnya.  Meskipun demikian, asal-usulnya masih dapat ditelusuri.  Ada 3 kelompok tetua sapi yang berperan menurunkan sapi yang dikenal sekarang.  Pertama Bos sondaicus alias banteng yang masih hidup di Ujung Kulon.  Kedua Bos indicus alias sapi zebu yang banyak hidup di India.  Ketiga adalah Bos taurus yang dikenal sebagai sapi Eropa.  Berikut ini beberapa sapi potong yang berpotensi baik untuk diternakkan.

Sapi Bali

Jenis sapi Bali banyak dikembangkan di Indonesia. Sapi Bali merupakan salah satu jenis sapi potong favorit di kalangan peternak. Disukainya sapi Bali oleh peternak ada beberapa alasan. Meskipun berperawakan kecil, tetapi sapi Bali mudah beranak. Fertilitasnya berkisar antara 83-86 %. Angka fertilitas ini lebih besar dibandingkan dengan angka fertilitas sapi asal eropa yang hanya sampai 60 %.  Sapi betina sudah dewasa kelamin pada umur 18 bulan. Sapi ini mudah beradaptasi terhadap lingkungan iklim panas.

Sapi Bali dewasa tinggi badannya mencapai sekitar 1,2 m dengan berat antara 300-400 kg. Bahkan tak jarang ada sapi jantan yang dapat mencapai berat hampir 500 kg.  Sapi Bali berkaki pendek, badan panjang dan lingkar dada cukup besar.  Sapi betina dan jantan berwarna coklat terang kemerahan pada waktu muda. Sapi jantan dewasa berwarna coklat gelap. Kulit pada pantat dan kaki bagian bawah berwarna putih.  Persentase karkas mencapai 56,9 % dari berat badan hidup.

Sapi Ongole

Sapi Ongole juga disebut sapi Benggala.  Sapi ini berasal dari India tapi sudah lama dikembangkan di Indonesia. Keturunan Ongole  yang kawin dengan sapi lokal menghasilkan sapi jenis PO atau Peranakan Ongole.

Salah satu ciri khas sapi ini yaitu kulitnya berwaran putih. Sebagian kulit kepala, pinggul, dan leher berwarna abu-abu. Kulitnya tipis dan elastis. Leher pendek serta berpunuk. Berat sapi jantan dewasa menacapai 400 kg dan sapi betina mencapai 310 kg. Salah satu keunikannya sapi betina tanduk lebih panjang dari sapi jantan.

Sapi Madura

Karakteristik sapi Madura merupakan perpaduan antara banteng dan sapi zebu karena sapi Madura merupakan hasil persilangan  keduanya. Punuknya kecil, warna kulit coklat atau merah bata, tanduk melengkung kedepan seperti bulan sabit. Berat sapi Madura dewasa mencapai 300 – 400 kg. Tinggi badan rata-rata 118 cm. Kakinya  kukuh dan tegap sehingga dapat digunakan sebagai ternak pekerja.

Sapi Grati

Jenis sapi ini diduga merupakan perkawinan keturunan banteng yang ada di pulau Jawa dan Madura.  Ciri-cirinya agak mirip dengan banteng dan sapi Bali. Kulitnya berwarna coklat atau merah bata. Berbercak putih dan hitam, berat rata-rata sapi dewasa 425 kg.

  1. Sapi Brahman

Sapi ini berasal dari india tapi sudah menyerbar keseluruh dunia. Penampilannya mirip sapi Ongole akan tetapi kulinya lebih tebal.  Pahanya lebih besar dan kokoh serta berpunuk besar, ciri khasnya mempunyai kulit gelambir di bagian rahang bawah sampai ke ujung tulang dada bagian depan.  Kelebihanya tahan terhadap daerah minus dan kering serta tahan terhadap penyakit Texas Fever.

Sapi Aberdeen Angus

Sapi aberdeen Angus berkulit hitam pekat sehingga namanya mudah diingat dengan sebutan sapi Angus (Angus=hangus, gosong).  Sapi ini berasal dari Skotlandia.

Sapi ini tidak bertanduk dan berpunuk.  Penampilannya pendek, bulat, lincah aktif bergerak.  Bobot sapi betina dewasa mencapai 550-750 kg, sedangkan yang jantan mencapai 800-1.000 kg. Dagingnya padat dan halus sehingga banyak disukai konsumen.

Sapi Hereford

Sapi ini sebagian besar kulitnya berwarna coklat kemerahan. Akan tetapi bagian muka, dahi, pipi dan perut antara kaki belakang sampai ujung ekor berwarna putih. Warna mata merah jambu kepucat-pucatan. Bentuk badanya hampir persegi empat. Kaki pendek dan tubuhnya panjang.  Pemeliharaannya mudah dan pertumbuhannya berat badan termasuk cepat. Dengan pemberian pakan yang cukup, sapi ini mampu bertambah berat 1-1,5 kg per hari.  Sapi betina dewasa memiliki berat badan sekitar 750 kg, sedangkan sapi jantan mencapai 1000 kg.

PEMILIHAN BIBIT

Ada beberapa kreteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan bibit sapi potong agar berhasil dalam pemeliharaannya yaitu :

  1. Sehat
  2. Sorot mata cerah dan tajam
  3. Tubuh berbentuk segi empat dan tampak berisi
  4. Kulit lemas dan mudah dilipat
  5. Kulit cepat rata kembali setelah dicubit.
  6. Bulu mengkilap
  7. Selaput lendir mulut dan gusi berwarana merah muda
  8. Ujung hidung (moncong) bersih, basah dan dingin.
  9. Tegap dan licah
  10. Ber umur 2-2,5 tahun

KANDANG

Pada awalnya sapi dibudidayakan dengan cara dipelihara di padang rumput (Ranch).  Budidaya cara ini tidak bermasalah pada daerah yang mempunyai lokasi penggembalaan yang masih sangat luas seperti di Indonesia Bagian Timur. Tetapi untuk daerah di pulau Jawa hal ini sulit dilakukan karena keterbatasan lahan penggembalaan.

Kandang merupakan hal penting dalam pemeliharaan sapi, terlebih dalam pemeliharan secara intensif.  Kandang dapat dibuat dari bahan-bahan sederhana  seperti kayu atau bambu, untuk atapnya dari genting, rumbia atau alang-alang. Lantai dapat dari semen atau tanah yang dipadatkan.

Ukuran kandang sapi disesuaikan dengan umurnya, yaitu :

  1. Anak sapi (Pedet) : 1 m2/ekor
  2. Sapi ukuran sedang sekitar umur 2 tahunan  :  3,5 m2/ ekor
  3. Sapi jantan dewasa :  7,5 m2/ekor ini juga dapat sebagai patokan membesarkan sapi dari pedet sampai dewasa.
  4. Khusus sapi jantan pemacek  : 3 x 4 m/ekor

PAKAN

Untuk sapi potong pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari 18,4 % konsentrat dan 81,6 % hijauan.  Jenis hijauan yang baik diberikan antara lain rumput gajah, rumput setaria dan daun jagung.

Berikut ini contoh untuk ransum sapi dewasa perhari.  Hijauan sebanyak 40-50 Kg/ekor, konsentrat 2-5 kg/ ekor, dedak halus 3 kg, bungkil kelapa 1 kg, mineral 30-50 g, dan sedikit garam dapur. Jumlah pakan yang diberikan bervariasi tergantung umur, jenis dan ukuran tubuh.  Sebagai perkiraan kebutuhan pakan sapi adalah 15-20 % dari berat badannya.

Hijauan pakan ternak seperti rumput, jerami dan daun jagung sebaiknya dipotong-potong sebelum diberikan pada sapi, hal ini untuk mengurangi energi yang dikeluarkan untuk memamah biak.

TATA LAKSANA PERAWATAN

Berdasarkan fase hidup dan jenisnya, perawatan sapi dibedakan untuk induk, pedet dan pejantan dewasa.

Perawatan Induk

Induk sapi yang unting perlu dirawat dengan hati-hati.  Pakan ekstra diberikan kepoada induk demi kesehatan anak yang akan dilahirkan.  Ke dalam menunya ditambahkan konmsentrat sehinga berat pakan menjadi sekitar 3 kg per hari.  Selain itu minimal tiga bulan menjelang kelahiran, sapi bunting sebaiknya jangan digunakan sebagai pekerja.  Sehari-hari sapi bunting sebaiknya jangan di gabung beramai-ramai dengan sapi lain dalam satu kandang.  Begitu pula seandainya digembalakan, sapi yang bunting harus dipisah dengan sapi yang lain.

Bagi sapi yang akan melahirkan, kandang harus dibuat bersih dan kering.  Rumput kering yang bersih akan sangat nyaman sebagai alas tidurnya.  Ciri sapi yang akan merlahirkan ialah puting membesar dan padat, vulva membengkak  dan kendor, gelisah, vulva keluar lendir tak lama kemudian anak sapi lahir.

Perawatan Pedet

Anak sapi yang baru lahir perlu dibersihkan dari lendir-lendir. Saat dibersihkan, dadanya ditekan-tekan dengan lembut agar pernapasanya teratur. Tali pusat digunting, bekas pemotongan diberi desinfektan seperti Iodiumtinktur 10 %.  Kurang lebih 30 menit setelah kelahiran, biasanya pedet sudah berdiri dan belajar berjalan.

Pedet dibiarkan menyusu sendiri pada induknya.  Puting susu induk sebaiknya dibersihkan dengan air hangat sebelum pedet menyusu. Pedet yang berumur 1 bulan sudah cukup kuat untuk mendapat makanan tambahan berupa konsentrat sekitar 1 Kg sehari. Setiap bulannya konsentrat ditambahkan 0,25 kg hingga pedet berumur 6 bulan.

Agar kandang tidak dingin bagi pedet, alas kandang harus senantiasa dialasi jerami atau rumput kering.

Sapi muda yang berumur 6-8 bulan dapat dipasangi tanda pengenal.  Tanda pengenal itu dapat berupa cap bakar pada paha, tanda di telinga (ear tag), tali atau genta dileher, atau cap di tanduk. Diluar negeri peternakan yang profesional biasanya memotong tanduk sapinya dengan besi panas, larutan NaOH  atau mesin pemotong tanduk elektrik.

Sapi potong biasa dikerem atau dikandangkan saja agar cepat besar dan bertambah bobot tubuhnya.  Akan tetapi, sapi jantan yang akan digunakan sebagai pemacak perlu gerak jalan.  Pejantan perlu digembalakan atau dikandangkan yang memungkinkannya bergerak agak bebas.

Sistem kereman atau teknik pembesaran sapi untuk digemukkan banyak diterapkan di pulau Jawa. Caranya ialah dengan membeli sapi-sapi kurus dan diberi pakan secara intensif. Pakan diberikan lebih banyak dari porsi normal atau dapat melalui  15-20 % dari bobot badan.  Selain itu, untuk menunjang agar sapi cepat gewmuk kandang dibuat untuk populasi padat dengan sekat yang memungkinkan sapi tidak bergerak leluasa.  Setelah 4-6 bulan sapi akan menjadi gemuk dan siap dilempar ke pasar.  Adapun tujuan pemeliharaan, ada beberapa hal yang harus dilakukan demi keberhasilan usaha ternak sapi potong.  Pertama, harus menjaga kebersihan kandang dan menyemprotnya dengan desinfektan seperti kreolin ataupun lisol dengan pemakaian dan dosis seperti pada kemasan.  Kedua, menjaga kesehatan sapi dengan cara pemberian pakan secara cukup, memandikan sapi dan melakukan vaksinasi secara teratur.  Apabila sapi terserang penyakit harus segera diobati. Sapi yang baru datang sebaiknya tidak langsung dicampur dengan sapi lainya melainkan harus dipisah, apakah sakit atau tidak. Ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit.  Sapi sebaiknya dimandikan sekali sehari, agar bersih dan sehat.

PENGENDALIAN PENYAKIT

Mencret (Calf Scours)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Eschericia coli. Menyerang pedet dengan gejala klinis lesu, lemah, malas menyusu, suhu tubuh naik, diare berupa cairan kuning keputih-putihan dan berbau busuk. Penyakit ini bisa menular ke anak sapi yang lain. Kematian terjadi karena anak sapi kehilangan cairan.  Penanganan penyakit ini dengan menjaga kebersihan kandang. Pengobatan dengan menggunakan preparat sulfa.

Radang Limpa

Penyakit ini disebabkan oleh bacillus anthracis.  Gejala klinis yang ditimbulkan yaitu suhui tubuh mnecapai 41-41 OC. Tekanan darah meningkat, tubuh gemetar, darah keluar dari semua lubang kumlah (tubuh), nafsu makan turun dan menyerang semua umur sapi.  Penyakit ini menular ke manusia.  Pencegahan dengan vaksinasi

setiap 6 bulan sekali.  Pengobatan dengan menggunakan Procain Penicillin G dengan dosis 6000-10000 mg/Kg berat badan sapi.

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK/FMD)

Penyakit ini disebabkan oleh virus Apthae epizootica (AE).  Gejala klinis yang tampak jelas pada mulut dan kuku yaitu dengan terdapatnya lepuhan dan lendir. Demam tinggi, gusi dan permukaan lidah melepuh dan berisi cairan. Kematian terjadi karena sapi tidak mau makan. Penyakit ini juga menular ke ternak lain.  Pencegahan dengan vaksinasi AE setiap 6 bulan sekali.pengobatan bila kondisi tidak terlalu parah dengan membersihkan lepuhan pada mulut dengan aluminium sulfat 5 %.  Kuku yang sakit direndam dalam larutan formalin atau natrium karbonat 4 %.

Cacingan

Beberapa penyakit cacingan pada sapi yang penting antara lain disebabkan oleh cacing hati (Fasciolla gigantica), cacing gelang (Neoascaris vitolorum) dan cacing lambung ( Haemoncus contortus).  Cacing masuk ke dalam tubuh sapi melalui pakan hijauan yang terkontaminasi.  Gejala klinis yang tampak yaitu nafsu makan kurang, kurus, bulu kusam, diare dan berat badan tidak naik-naik. Pengobatan dengan preparat piperazin Citrat melalui air minum.

Tuberculosis (TBC)

Penyebabnya Micobacterium tuberculosse. Gejala klinisnya sapi terlihat kurus, bulu kusam, kering, sesak napas batuk bercampur darah. Dapat menyebabkan kematian dan menular ke sapi lain dan manusia.  Pengobatan dengan preparat Rifampisin.

PENUTUP

Hasil utama sapi potong adalah dagingnya. Meskipun demikian, sapi potong dapat dimanfaatkan sebagai pekerja, diambil kulitnya, diambil kotorannya untuk pupuk dan lain-lain.

Sesuai dengan umur potong sapi, dikenal 3 golongan umur sapi.  Sapi yang dipotong pada umur 2,5-3 tahun dikenal dengan sebutan mature beef. Umur potong 1,5 – 2 tahun masuk golongan young beef. Umur potong 10-15 bulan masuk golongan baby beef. Sapi muda memiliki kwaliatas daging yang lebih bagus dibanding sapi tua. Sapi muda memiliki ciri daging berwarna merah muda,   serat halus.

Daging sapi sendiri mempunyai beberapa golongan kwalitas sesuai dengan tempatnya pada rangka tubuh. Daging paha atau round porsinya 20 % dari karkas. Daging pinggang atau loin porsinya 17 % dari karkas. Daging bagian punggung dan tulang rusuk atau rib porsinya 9 %.  Daging bahu atau chuck porsinya 26 % dari karkas.   Daging dada atau brisk sekitar 5 % dari porsi. Daging perut atau flank sekitar 4 % dari karkas.  Daging daerah rusuk bawah hingga perut bawah atau plate dan suet sekitar 11 % dari karkas.  Daging kaki depan atau foreshank sebanyak 2,1 % dari karkas.

SAPI GILA (MAD COW)

SAPI GILA (MAD COW)

Apa yang di maksud dengan Sapi Gila (Mad Cow/Bovine Spongioform Encephalopaty (BSE) )?

Sapi Gila (Mad cow/Bovine Spongioform Encephalopaty (BSE) ) adalah penyakit pada sapi bersifat zoonosis, menyebabkan kematian yang fatal dan bersifat perakut-akut sampai medium akut  yang disebabkan oleh PRION ( Sejenis Senyawa Protein).

Sapi Gila tergolong penyakit eksotik di Dunia dan menyerang pada sapi dan bisa menyerang manusia (zoonosis).

Mengapa Sapi Gila (Mad Cow/BSE) Sangat Ditakuti ?

  • Sapi Gila (Mad Cow/BSE) bersifat zoonosa artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia, demikian juga sebaliknya.
  • Terjadi angka kematian yang sangat tinggi dan cepat hingga 100% dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak juga menyebabkan kematian pada manusia

Apa Sumber Penularan Sapi Gila (Mad Cow) ?

Sumber Penularan Sapi Gila (Mad Cow/BSE) :

  • Hewan atau ternak penderita Sapi Gila.
  • Bahan makanan asal hewan dan bahan asal hewan yang tercemar PRION.
  • Tanah, tanaman dan air serta media lainnya yang tercemar PRION.

Bagaimana Cara Penularan Sapi Gila ?

Pada Manusia Sapi Gila ditularkan dengan cara :

Memakan Daging Sapi atau bahan makanan hasil olahan asal sapi penderita Mad Cow/Sapi Gila.

Pada Hewan Ternak :

  • Hewan memakan rumput yang mengandung PRION.
  • Kontak langsung dengan hewan penderita Sapi Gila (Mad Cow).

Bagaimana Tanda-Tanda Sapi Gila (Mad Cow/BSE) pada Sapi ?

Tanda-Tanda Sapi Gila Pada Hewan atau Ternak :

  • Demam, gelisah, lemah dan paha gemetar.
  • Nafsu makan hilang.
  • Berjalan sempoyongan (tidak terkoordinasi)
  • Lumpuh.
  • Kematian dalam waktu singkat.
  • Bila dipotong (post mortem) kerusakan pada otak (Otak Seperti Spon berrongga).

Bagaimana Tanda-Tanda Sapi Gila (Mad Cow/BSE) pada Manusia ?

Tanda- Tanda Flu burung (AI) pada Manusia :

  • Demam, Nyeri otot dan sendi.
  • Pusing yang amat sangat
  • Lumpuh
  • Hilangnya kesadaran dan diikuti dengan meninggalnya korban.

Bagaimana Tindakan Pencegahan Sapi gila (Mad Cow/BSE)?

Pada Hewan atau Ternak.

  • Selalu menjaga kebersihan dan Cukup Ventilasi baik udara maupun cahaya di kandang.
  • Vaksinasi untuk sapi gila (mad Cow/BSE) belum ada.
  • Isolasi pada ternak yang dicurigai menderita Sapi Gila sehingga tidak kontak dengan hewan lain.

Pada Manusia

  • Hindari kontak (bersentuhan) serta jangan memakan bahan makanan (daging, jeroan) yang berasal dari hewan yang dicurigai terkena Sapi Gila (Mad Cow/BSE) atau tidak jelas asal-usulnya.
  • Mencuci bersih bahan makanan sebelum dimasak.
  • Memasak bahan makanan asal hewan sampai matang sempurna.
  • Cuci tangan sebelum makan.

Ingin Tahu Kesmavet?

INGIN TAHU KESMAVET ?

v      Kesehatan Masyarakat Veteriner ……

Kesehatan Manusia yang secara langsung/tidak langsung berhubungan dengan hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan.

v      Untuk Apa Kesmavet…..

  • Melindungi konsumen dari bahaya yang dapat mengganggu kesehatan akibat menggunakan / mengkonsumsi bahan makanan asal hewan (Daging, Telur, Susu).
  • Melindungi dan menjamin ketentraman bathin masyarakat dari penularan penyakit zoonosa, cemaran mikroba dan residu bahan yang berbahaya ( residu antibiotik, hormon atau logam berat).
  • Melindungi petani / peternak dari kerugian-kerugian akibat rendahnya kualitas bahan makanan asal hewan yang diproduksi.

v      Apa itu Zoonosa ?

  • Zoonosa adalah penyakit yang dapat berjangkit dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
  • Contoh Zoonosa yang penting :

v      Anthraks yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis

v      Tuberculosa (TBC) yang disebabkan bakteri Mycobakterium tuberculosa

v      Brucellosis uang disebabkan Brucella abortus,  dll

v      Apa itu FBD ?

  • Food Borne Disease (FBD) yaitu penularan penyakit hewan manusia melalui daging yang di konsumsi

Contoh FBD :

  • FBD yang disebabkan bakteri Salmonella sp., Listeria sp., Clostridium Perfringens, Escherichia coli, Campylobacter sp.
  • FBD yang disebabkan virus New Variant Creutzfeldt-Jacob Disease (nv-CJD)
  • FBD yang disebabkan oleh parasit Sarcocytis Sp., Toxoplasma gondii serta cacing Taenia  saginata, Trichinella spiralis, Taenia solium, Toxocara canis, Toxocara cati
  • FBD yang disebabkan oleh racun bakteri Staphylococcus aureus, Clostridium botulinum, Bacilus cereus, Aeromonas hydrophila
  • FBD yang disebabkan oleh bahan berbahaya (residu antibiotika, insektisida, pestisida dan lain-lain)

v      Bagaimana Penyakit FBD dapat ditularkan pada manusia?

Penyakit timbul akibat manusia yang mengkonsumsi daging yang mengadung agen penyebab penyakit (mikroba, racun, bahan berbahaya, dan lain-lain).  Daging dapat mengandung agen penyakit disebabkan antara lain :

  1. Daging berasal dari hewan sakit
  2. Penanganan daging yang tidak hygienis
  • Kurangnya kebersihan dari pekerja daging (baju kotor, tangan kotor dan berkuku panjang). Baik di Rumah Potong hewan (RPH), Rumah Potong Unggas (RPU), maupun di tempat penjualan
  • Penyelesaian penyembelihan di kerjakan di lantai.
  • Penanganan daging menggunakan air kotor
  • Kurangnya kebersihan saat membawa atau mengangkut daging
  • Kurangnya kebersihan di tempat penjualan daging

v      Memilih Bahan Asal Hewan yang Sehat ( daging, telur dan susu) ?

Ciri Susu yang sehat :

  • Warna, bau, rasa dan kekentalan tidak ada perubahan.
  • Tidak ada benda asing dalam susu misalnya : rambut dan pasir.
  • Dengan pemeriksaan laboratorium :

-      Berat jenis pada suhu 27,5 °C minimal 1,028

-      Kadar lemak minimal 2,8%

-      Uji alkohol 70% negatif.

-      Uji didih negatif.

-      Kadar bahan kering tanpa lemak minimal 80%.

-      Derajat keasaman 4,5 – 7 ˚SH.

-      Katalase maksimal 3 cc

-      Titik beku 34,0

-      Kadar protein minimal 2,7 %

-      Angka reduktase 2,5 jam.

-      Jumlah kuman yang dibiakan maximal 1 juta/cc.

-      Susu tidak boleh mengandung kuman patogen

  • Khusus Susu Pasteurisasi :

-      Uji Storch.

-      Uji fosfatase.

-      Jumlah kuman yang dibiakan per cc adalah 25.000.

-      Kuman coli tiap cc adalah 1

Ciri-ciri Telur Sehat

  • Bentuk oval
  • Mempunyai ujung tumpul dan ujung runcing.
  • Bentuk kerabang :

-      Bentuk kerabang oval telur.

-      Bersih dari kotoran yang menempel pada kerabang karena bisa menjadi sumber mikroba.

-      Kerabang utuh tidak retak karena jika kerabang retak memudahkan mikroba masuk ke dalam telur.

-      Warna sesuai galur : Coklat / Putih

  • Penampilan dalam :

-      Kuning telur dibungkus oleh putih telur.

-      Bila diteropong memiliki kantong udara.

-      Kuning telur hanya satu.

-      Posisi dan bayng-bayang kuning telur jelas.

-      Bebas dari gumpalan-gumpalan seperti blood spoot / meat spoot.

  • Telur sebaiknya disimpan pada suhu 10˚C untuk mengurangi pengenceran putih telur.

Ciri-ciri Daging Sehat

  • Konsistensi padat
  • Warna cerah
  • Daging tidak memar dan tidak berwarna hijau atau hitam.
  • Daging disimpan pada lemari pendingin / freezer.

-      Penyimpanan daging segar : -2 – (+ 4 ) ˚C

-      Penyimpanan daging beku  : -18 – (- 40 ) ˚C

  • Tidak berbau asam atau busuk
  • Tidak berlendir
  • Dengan Pemeriksaan Laboratorium :
    • pH : 5,3 – 7,0
    • Jumlah mikroba maksimal 6,4 X 103 – 8,3 X 106 / cm2
    • Untuk Unggas jumlah mikroba maksimal adalah 103 – 105 / cm2
    • Daging berbau jika jumlah mikroba :
      • Daging : 1,2 X 106 – 1,0 X 108
      • Unggas : 2,5 X 106 – 1,0 X 108
      • Daging berlendir jika jumlah mikroba :
        • Daging : 1,2 X 106 – 3,0 X 108
        • Unggas : 1,0 X 107 – 6,0 X 107

v      Resep Membeli Produk Bahan Asal Hewan ?

  • Belilah daging yang disimpan pada lemari pendingin / freezer.
  • Belilah produk Bahan Asal Hewan yang segar pada akhir belanja dan langsung dibawa ke rumah untuk dimasak atau disimpan dalam lemari es.
  • Jangan membeli produk bahan asal hewan yang berlabel disimpan pada suhu dingin tetapi dijual pada suhu kamar.
  • Perhatikan tanggal kadaluarsanya.
  • Jangan membeli daging dengan kemasan rusak.
  • Jangan membeli produk bahan asal hewan di dalam kemasan, bila kemasan tersebut penyok, bocor atau kembung.  Karena jika kemasan rusak sangat rentan sekali terjadinya keracunan makanan.

v      Apa Maksud Bahan Asal Hewan yang HAUS ?

Untuk menjamin ketentraman bathin masyarakat dan  melindungi konsumen dari bahaya akibat menkonsumsi bahan asal hewan maka bahan asal hewan harus memenuhi syarat HAUS dengan penerapan sebagai berikut :

  • Halal :

Produk berasal dari hewan yang disembelih dan ditangani sesuai syariat Islam, tidak mengandung atau bersentuhan dengan zat atau barang yang diharamkan

  • Aman :

Produk tidak mengandung agen penyebab penyakit dan bahan-bahan yang berbahaya ( Residu antibiotik, hormon, pestisida, racun, logam berat dan lain-lain.

  • Utuh :

Tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apa pun.

  • Sehat :

Mengandung zat-zat gizi (Protein, Vitamin, Lemak dll) dalam jumlah yang cukup dan seimbang

Pedoman Perbibitan Sapi Perah

PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR 55/Permentan/OT.140/10/2006
TENTANG
PEDOMAN PEMBIBITAN SAPI PERAH YANG BAIK
(GOOD BREEDING PRACTICE)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERTANIAN,
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Susu sebagai salah satu produk peternakan merupakan sumber protein hewani yang semakin dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan susu tersebut dilakukan peningkatan populasi, produksi dan produktifivitas sapi perah. Untuk itu bibit sapi perah memegang peranan penting dalam upaya pengembangan pembibitan sapi perah.   Saat ini sebagian peternakan sapi perah telah dikelola dalam bentuk usaha peternakan sapi perah komersial dan sebagian lagi masih berupa peternakan rakyat yang dikelola dalam skala kecil, populasi tidak terstruktur dan belum menggunakan sistem breeding yang terarah, walaupun dalam hal manajemen umumnya telah bergabung dalam koperasi, namun masih sederhana sehingga bibit ternak yang dihasilkan kurang dapat bersaing.   Pengembangan pembibitan sapi perah memiliki potensi yang cukup besar dalam rangka mengurangi ketergantungan impor produk susu maupun impor bibit sapi perah. Untuk itu pemerintah berkewajiban membina dan menciptakan iklim usaha yang mendukung usaha pembibitan sapi perah sehingga dapat memproduksi bibit ternak untuk memenuhi kebutuhan jumlah dan mutu sesuai standar, disamping pemberian fasilitas bagi peningkatan nilai tambah produk bibit seperti antara lain pemberian sertifikat.
selanjutnya
B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Maksud ditetapkannya Pedoman ini yaitu:
a. bagi pembibit, sebagai acuan dalam melakukan pembibitan sapi perah untuk menghasilkan bibit yang bermutu baik;
b. bagi petugas dinas yang menangani fungsi peternakan di daerah, sebagai pedoman dalam melakukan pembinaan, bimbingan dan pengawasan dalam pengembangan pembibitan sapi perah.
2. Tujuan
Tujuan ditetapkannya Pedoman ini yaitu agar dalam pelaksanaan kegiatan pembibitan sapi perah dapat diperoleh bibit sapi perah yang memenuhi persyaratan teknis minimal dan persyaratan kesehatan hewan.
C. Ruang lingkup
Ruang lingkup yang diatur dalam Pedoman ini meliputi:
1. Sarana dan prasarana;
2. Proses produksi bibit;
3. Pelestarian lingkungan;
4. Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
D. Pengertian
Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Pembibitan adalah kegiatan budidaya menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk diperjualbelikan.
2. Bibit sapi perah adalah semua sapi perah hasil pemuliaan ternak yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembangbiakkan.
3. Spesies adalah sekelompok ternak yang memiliki sifat-sifat genetik sama, dalam kondisi alami dapat melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan yang subur.
4. Rumpun adalah sekelompok ternak yang mempunyai ciri dan karakteristik luar serta sifat keturunan yang sama dari satu spesies.
5. Galur adalah sekelompok individu ternak dalam satu rumpun yang dikembangkan untuk tujuan pemuliaan dan/atau karakteristik tertentu.
6. Pemuliaan ternak adalah rangkaian kegiatan untuk mengubah komposisi genetik pada sekelompok ternak dari status rumpun atau galur guna mencapai tujuan tertentu.
7. Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan keturunan melalui pemeriksaan dan/atau pengujian berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metoda atau teknologi tertentu.
8. Silsilah adalah catatan mengenai asal-usul keturunan ternak yang meliputi nama, nomor dan performan dari ternak dan tetua penurunnya.
9. Identitas ternak adalah pemberian tanda atau nomor pada ternak dapat berupa eartag, tatoo dan kalung.
10. Standar bibit adalah spesifikasi bibit yang dibakukan, disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veterinair, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memberi kepastian manfaat yang akan diperoleh.
11. Uji Performan adalah pengujian untuk memilih ternak bibit berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif meliputi pengukuran, penimbangan dan penilaian.
12. Uji zuriat (progeny testing) adalah metoda pengujian untuk mengetahui mutu genetik calon pejantan berdasarkan anak keturunannya.
13. Proven bull adalah pejantan yang sudah diseleksi sebagai pejantan unggul berdasarkan kemampuan produksi dan reproduksi keturunannya (progeny) atau saudara kandung/tiri atau garis keturunannya (pedigree).
14. Sertifikasi bibit adalah proses penerbitan sertifikat bibit setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan serta memenuhi semua persyaratan untuk diedarkan.
15. Village Breeding Center yang selanjutnya disingkat VBC adalah suatu kawasan pengembangan peternakan yang berbasis pada usaha pembibitan ternak rakyat yang tergabung dalam kelompok peternak pembibit.
16. Kawasan sumber bibit adalah wilayah yang mempunyai kemampuan dalam pengembangan bibit ternak dari rumpun tertentu baik murni maupun persilangan secara terkonsentrasi sesuai dengan agroekosistem, pasar, dukungan sarana dan prasarana yang tersedia.
17. Wilayah sumber bibit ternak adalah suatu agroekosistem yang tidak dibatasi oleh administrasi pemerintahan dan mempunyai potensi untuk pengembangan bibit ternak dari spesies atau rumpun tertentu.
18. Unit pembibitan ternak adalah wilayah sumber bibit dasar (foundation stock) dan bibit induk (breeding stock) yang dilengkapi dengan statiun uji performan.
19. Pengawas bibit ternak adalah pengawai negeri sipil yang memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas pengawasan bibit ternak sesuai peraturan perundang-undangan yang berlalu.
20. Pelepasan (launching) bibit sapi perah adalah pengakuan secara terbuka atas keunggulan ternak tertentu untuk digunakan secara komersial, umumnya yaitu proven bull elite.
BAB II
SARANA DAN PRASARANA
A. Lokasi
Lokasi usaha pembibitan sapi perah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Tidak bertentangan dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang Daerah (RDTRD) setempat;
2. Mempunyai potensi sebagai sumber bibit sapi perah serta dapat ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit ternak;
3. Terkonsentrasi dalam satu kawasan atau satu Village Breeding Center (VBC) atau satu unit pembibitan ternak;
4. Tidak mengganggu ketertiban dan kepentingan umum setempat, untuk peternakan yang sudah berbentuk perusahaan dibuktikan dengan izin tempat usaha;
5. Memperhatikan lingkungan dan topografi sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan;
6. Jarak antara usaha pembibitan sapi perah dengan usaha pembibitan unggas minimal 1.000 meter;
7. Didukung oleh infrasktruktur yang baik.
selanjutnya
B. Lahan
Lahan untuk usaha pembibitan sapi perah harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
1. Bebas dari jasad renik patogen yang membahayakan ternak dan manusia;
2. Sesuai dengan peruntukannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
C. Sumber Air dan alat penerang
Usaha pembibitan sapi perah hendaknya memiliki sumber air yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Sumber air tersedia tidak jauh dari kandang/kelompok peternakan atau
dapat mengalir dengan mudah mencapai kandang dalam jumlah yang
cukup;
2. Air minum yang memenuhi baku mutu air yang sehat tersedia sepanjang tahun dalam jumlah sesuai kebutuhan;
3. Penggunaan air untuk keperluan kebersihan kandang dan peralatan tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat sekitar;
4. Usaha pembibitan sapi perah agar menyediakan alat penerang sesuai kebutuhan.
D. Bangunan dan Peralatan
1. Untuk pembibitan sapi perah diperlukan bangunan, peralatan, persyaratan teknis dan letak kandang yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Bangunan kandang
- kandang sapi laktasi;
- kandang kering kandang;
- kandang beranak;
- kandang pedet;
- kandang dara;
- kandang pejantan;
- kandang kawin;
- kandang isolasi.
b. Bangunan lain
- gudang pakan dan peralatan;
- unit pemerahan;
- unit kamar susu;
- unit pengolah susu;
- unit penampungan dan pengolahan limbah;
- unit sanitasi, sterilisasi, penanganan kesehatan;
- unit perkawinan ternak;
- instalasi air bersih;
- bangunan kantor dan tempat karyawan.
c. Peralatan
- tempat pakan dan tempat minum;
- alat pemotong dan pengangkut rumput;
- alat pembersih kandang dan pembuatan kompos;
- peralatan kesehatan hewan;
- peralatan pemerahan dan pengolahan susu;
- peralatan sanitasi kebersihan;
- peralatan pengolahan limbah.
d. Persyaratan teknis kandang
- konstruksi harus kuat;
- terbuat dari bahan yang ekonomis mudah diperoleh;
- sirkulasi udara dan sinar matahari cukup;
- drainase dan saluran pembuangan limbah baik, serta mudah
dibersihkan;
- lantai dengan kemiringan 5% tidak licin, tidak kasar, mudah kering dan tahan injak;
- luas kandang memenuhi persyaratan daya tampung;
- kandang isolasi dibuat terpisah.
e. Letak kandang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- mudah diakses terhadap transportasi;
- tempat kering dan tidak tergenang saat hujan;
- dekat sumber air, atau mudah dicapai aliran air;
- tata letak dengan bangunan lain sedemikian rupa yang memudahkan kegiatan, pengaturan drainase dan pembuangan
limbah sehingga tidak terjadi pencemaran;
- kandang isolasi terpisah dari kandang/bangunan lain.
- cukup sinar matahari, kandang tunggal menghadap timur, kandang ganda membujur utara-selatan;
- tidak mengganggu lingkungan hidup;
- memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi.
E. B i b i t
1. Klasifikasi
Bibit sapi perah diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:
a. Bibit dasar (elite/foundation stock), diperoleh dari proses seleksi rumpun atau galur yang mempunyai nilai pemuliaan di atas nilai rata-rata;
b. Bibit induk (breeding stock), diperoleh dari proses pengembangan bibit dasar;
c. Bibit sebar (commercial stock), diperoleh dari proses pengembangan bibit induk.
2. Standar mutu
Untuk menjamin mutu produk yang sesuai dengan permintaan konsumen, diperlukan bibit ternak yang bermutu, sesuai dengan persyaratan teknis minimal setiap bibit sapi perah sebagai berikut:
a. mempunyai silsilah (pedigree) sampai dengan 2 (dua) generasi
diatasnya untuk bibit dasar/elite dan bibit induk;
b. mempunyai silsilah (pedigree) minimal 1 (satu) generasi diatasnya untuk bibit sebar;
c. berasal dari daerah yang bebas penyakit hewan menular yang dinyatakan dengan surat keterangan kesehatan hewan oleh pejabat yang berwenang;
d. memiliki bentuk ideal, alat reproduksi normal serta tidak memiliki cacat fisik;
e. memiliki ambing simetris, pertautan luas dan kuat, jumlah puting empat, bentuk dan fungsi puting normal;
f. sudah di-dehorning;
g. bukan dari kelahiran jantan dan betina (free martin);
h. secara khusus memperhatikan umur, tinggi pundak, berat badan, lingkar dada dan warna bulu sesuai dengan standar kelompok bibit sapi perah yang telah disepakati sebagai berikut:
- Umur : Betina minimal 15-20 bulan, jantan minimal 18 bulan;
- Tinggi pundak : Betina minimal 115 cm, jantan minimal 134 cm;
- Berat badan : Betina minimal 300 kg, jantan minimal 480 kg;
- Lingkar dada : Betina minimal 155 cm;
- Warna bulu : hitam putih/merah putih sesuai dengan.
karakteristik sapi perah FH;
i. berdasarkan kemampuan dan kualitas produksi susu tetuanya, bibit sapi perah terdiri dari bibit dasar, bibit induk dan bibit sebar dengan persyaratan teknis seperti tabel berikut:
Kategori
Produksi susu induk (305 hari) pada laktasi I Bapak yang berasal dari Induk yang mempunyai produksi susu 305 hari setara dewasa Kadar lemak
Bibit Dasar > 6.000 kg > 7.000 kg > 3,5%
Bibit Induk 5.000-6.000 kg > 6.000 kg > 3,5%
Bibit Sebar 4.000-5.000 kg > 5.000 kg > 3,5%
j. secara khusus untuk bibit sapi perah pejantan lingkar scrotum minimal 32 cm.
3. Bibit sapi perah yang baru harus dipelihara dikandang isolasi lebih dahulu sampai dinyatakan tidak tertular penyakit.
selanjutnya
F. Pakan
1. Setiap usaha pembibitan sapi perah harus menyediakan pakan yang cukup bagi ternaknya, baik yang berasal dari pakan hijauan, maupun pakan konsentrat.
2. Pakan hijauan dapat berasal dari rumput, leguminosa, sisa hasil pertanian dan dedaunan yang mempunyai kadar serat yang relatif tinggi dan kadar energi rendah. Kualitas pakan hijauan tergantung umur pemotongan, palatabilitas dan ada tidaknya zat toksik (beracun) dan anti nutrisi.
3. Pakan konsentrat diberikan sesuai standar kebutuhan untuk pedet, sapi dara, sapi bunting, sapi laktasi dan sapi kering kandang. Pakan dapat berupa ransum komersil atau mencampur sendiri.
4. Pemberian imbuhan pakan (feed additive) dan pelengkap pakan (feed supplement) harus memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku.
G. Obat hewan
1. Obat hewan yang digunakan meliputi sediaan biologik, farmasetik, premik dan obat alami.
2. Obat hewan yang dipergunakan seperti bahan kimia dan bahan biologik harus memiliki nomor pendaftaran. Untuk sediaan obat alami tidak dipersyaratkan memiliki nomor pendaftaran.
3. Penggunaan obat keras harus di bawah pengawasan dokter hewan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang obat hewan.
4. Penggunaan desinfektan dalam bentuk foot-deeping untuk pencegah masuknya penyakit dari luar.
5. Vaksinasi dan atau obat cacing diberikan secara berkala sesuai kebutuhan.
H. Tenaga Kerja
Tenaga yang dipekerjakan pada pembibitan ternak sapi perah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Sehat jasmani dan rohani;
2. Tidak memiliki luka terbuka;
3. Jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan;
4. Telah mendapat pelatihan teknis pembibitan sapi perah, kesehatan hewan dan keselamatan kerja;
5. perusahaan peternakan sapi perah agar melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketenaga-kerjaan.
BAB III
PROSES PRODUKSI BIBIT
A. Sistem Usaha
Bentuk usaha pembibitan sapi perah dapat berupa:
1. Peternakan rakyat yang tergabung dalam koperasi atau kemitraan inti plasma.
2. UPT/UPTD/Balai Pembibitan sapi perah milik pemerintah pusat atau daerah.
3. Perusahaan swasta/LSM pembibitan sapi perah.
B. Seleksi Bibit
Seleksi bibit sapi perah dilakukan berdasarkan performan anak dan individu
calon bibit sapi perah tersebut, dengan mempergunakan kriteria seleksi
sebagai berikut:
1. Seleksi dilakukan oleh peternak terhadap bibit ternak yang akan dikembangkan di peternakan ataupun terhadap keturunan/bibit ternak yang diproduksi baik oleh kelompok peternak rakyat maupun perusahaan peternakan untuk keperluan peremajaan atau dijual sebagai bibit.
2. Seleksi calon bibit jantan dipilih dari hasil perkawinan 1-5% pejantan terbaik yang dikawinkan dengan betina unggul 40-50% dari populasi selanjutnya dilakukan uji performan yang dilanjutkan dengan uji zuriat untuk menghasilkan proven bull .
3. Seleksi calon bibit betina dipilih dari hasil perkawinan 1-5% pejantan terbaik yang dikawinkan dengan betina unggul 70-85% dari populasi selanjutnya dilakukan uji performan. Dalam melakukan seleksi bibit harus diperhatikan sifat-sifat sapi perah sebagai berikut:
1. Sifat kuantitatif
- umur pubertas;
- melahirkan teratur;
- berat lahir, berat sapih, berat kawin, berat dewasa;
- laju pertumbuhan setelah disapih;
- tinggi pundak;
- produksi susu;
- lingkar scrotum.
2. Sifat kualitatif
- bentuk tubuh/eksterior;
- abnormalitas/cacat;
- tidak ada kesulitan melahirkan;
- libido jantan;
- tabiat;
- kekuatan (vigor).
selanjutnya
C. Perkawinan
Perkawinan dilakukan dengan teknik Inseminasi Buatan (IB) menggunakan semen beku, SNI 01-4869.1.2005, semen cair atau teknik transfer embrio (TE) dengan embrio beku atau segar yang sudah teruji. Dalam kasus perkawinan dengan teknik diatas mengalami kegagalan maka dapat dilakukan dengan sistem perkawinan alam, dengan rasio jantan banding
betina 1:8-10. Dalam pelaksanaan perkawinan harus dilakukan pengaturan penggunaan semen beku/semen cair atau pejantan untuk menghindari terjadi kawin sedarah (inbreeding).
D. Pemberian pakan dan air minum
1. Pakan hijauan diberikan 2-3 kali sehari yaitu pagi dan siang sesudah pemerahan. Pakan hijauan diberikan sebanyak + 10% dari berat badan.
2. Pakan konsentrat diberikan dalam keadaan kering, sesudah pemerahan 1-2 kali sehari sebanyak 1,5-3,0% dari berat badan.
3. Air minum disediakan secara tidak terbatas (ad libitum).
E. Ternak Pengganti (Replacement Stock )
Bibit sapi perah untuk pengganti induk/peremajaan diprogram secara teratur setiap tahun.
F. Afkir (Culling)
Pengeluaran ternak yang sudah dinyatakan tidak memenuhi persyaratan bibit (afkir/culling), dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Sapi induk yang tidak produktif harus segera dikeluarkan.
2. Keturunan jantan yang tidak terpilih sebagai calon bibit (tidak lolos seleksi) dikeluarkan, dapat dikastrasi dan dijadikan sapi bakalan;
3. Anak betina yang pada saat sapih atau pada umur muda menunjukan tidak memenuhi persyaratan bibit harus dikeluarkan.
G. Pencatatan (Recording)
Setiap usaha pembibitan sapi perah hendaknya melakukan pencatatan (recording). Pencatatan (recording) tersebut meliputi:
1. Rumpun, identitas ternak dan sketsa (foto ternak);
2. Identitas, alamat kelompok dan organisasi peternak;
3. Silsilah, rumpun, identitas tetua, produktivitas dan abnormalitas tetua;
4. Perkawinan (tanggal, pejantan, IB/kawin alam, berat kawin);
5. Kelahiran (tanggal, bobot lahir, sex, tipe kelahiran, calving-ease);
6. Beranak dan beranak kembali (tanggal, paritas);
7. Pakan (jenis, konsumsi);
8. Vaksinasi, pengobatan (tanggal, perlakuan/treatment);
9. Mutasi (pemasukan dan pengeluaran ternak).
Data recording tersebut selanjutnya diolah dan diinterpretasikan untuk peningkatan kualitas bibit dan produksi bibit serta untuk bahan seleksi bibit.  Pencatatan dilaksanakan oleh rekorder resmi pada kartu-kartu dan dalam buku registrasi dengan model recording yang seragam dan dilakukan sebulan sekali.
H. Uji Performan dan Uji Zuriat
Uji performan dan uji zuriat dilakukan pada keturunan yang lolos seleksi sebagai calon bibit dengan mengikuti prosedur dan tata cara yang ditetapkan.
I. Sertifikasi
Sertifikasi dilakukan oleh lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi. Dalam hal belum ada lembaga sertifikasi yang terakreditasi, sertifikasi dapat dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang. Sertifikasi bertujuan untuk meningkatkan nilai ternak.
Sertifikat sapi perah bibit terdiri dari:
1. Sertifikat proven bull untuk sapi jantan hasil uji progeny;
2. Sertifikat pejantan dan betina unggul untuk sapi hasil uji performan;
3. Sertifikat induk elite untuk sapi induk yang telah terseleksi dan memenuhi standar.
J. Kesehatan Hewan
Untuk memperoleh hasil yang baik, pembibitan sapi perah harus memperhatikan persyaratan kesehatan hewan yang meliputi:
1. Situasi penyakit
Pembibitan sapi perah harus terletak di daerah yang tidak terdapat gejala klinis atau bukti lain tentang penyakit radang limpa (Ánthrax), kluron menular (Brucellosis), tuberculosis, anaplasmosis, leptospirosis, salmonelosis dan piroplasmosis.
2. Pencegahan/Vaksinasi
a. pembibitan sapi perah harus melakukan vaksinasi dan pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit hewan menular
tertentu yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang;
b. mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam kartu kesehatan ternak;
c. melaporkan Kepada Dinas yang membidangi fungsi peternakan setempat terhadap kemungkinan timbulnya kasus penyakit, terutama yang diduga/dianggap sebagai penyakit hewan menular;
d. penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan dan diperhitungkan secara ekonomis;
e. pemotongan kuku dilakukan minimal 3 (tiga) bulan sekali; Pedoman Pembibitan Sapi Perah Yang Baik 19
f. setiap dilakukan pemerahan harus dilakukan uji mastitis;
g. dilakukan tindakan Biosecurity. Dalam rangka pengamanan
kesehatan setiap pembibitan sapi perah harus memperhatikan halhal tindak biosecurity sebagai berikut:
1). Lokasi usaha tidak mudah dimasuki binatang liar serta bebas dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit;
2). Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan dengan menyemprotkan insektisida pembasmi serangga, lalat dan
hama lainnya;
3). Untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari satu kelompok ternak ke kelompok ternak lainnya, pekerja yang
melayani ternak yang sakit tidak diperkenankan melayani ternak yang sehat;
4). Menjaga agar tidak setiap orang dapat bebas keluar masuk kandang ternak yang memungkinkan terjadinya penularan
penyakit;
5). Membakar atau mengubur bangkai kerbau yang mati karena penyakit menular;
6). Menyediakan fasilitas desinfeksi untuk staf/karyawan dan kendaraan tamu dipintu masuk perusahaan;
7). Segera mengeluarkan ternak yang mati dari kandang untuk dikubur atau dimusnahkan oleh petugas yang berwenang;
8). Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang.
K. Pelepasan bibit sapi perah
Bibit sapi perah proven bull dari kelompok bibit dasar/elite dapat dilepas oleh Menteri Pertanian setelah terlebih dahulu dilakukan penelitian terhadap kesesuaiannya dengan tata cara produksi bibit.
BAB IV
PELESTARIAN LINGKUNGAN
Setiap usaha pembibitan sapi perah hendaknya selalu memperhatikan aspek pelestarian lingkungan, antara lain dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyusun rencana pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan sebagaimana diatur dalam:
a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL);
c. Peraturan Pelaksanaan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
2. Melakukan upaya pencegahan pencemaran lingkungan, sebagai berikut:
a. mencegah terjadinya erosi dan membantu pelaksanaan penghijauan di areal peternakan;
b. mencegah terjadinya polusi dan gangguan lain seperti bau busuk, serangga, pencemaran air sungai dan lain-lain;
c. membuat dan mengoperasionalkan unit pengolah limbah peternakan (padat, cair, gas) sesuai kapasitas produksi limbah yang dihasilkan.  Pada peternakan rakyat dapat dilakukan secara kolektif oleh kelompok.
BAB V
MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
A. Sistem Pengawasan
1. Usaha pembibitan sapi perah baik perusahaan swasta/LSM atau kelompok peternak sapi perah hendaknya menerapkan sistem pengawasan secara baik dalam proses produksi bibit untuk memantau Pedoman Pembibitan Sapi Perah Yang Baik 21 pencegahan dan penanggulangan terjangkitnya penyakit serta memantau keberhasilannya.
2. Pengawasan terhadap proses produksi bibit dilakukan oleh instansi yang berwenang cq. Pengawas bibit ternak.
B. Monitoring dan Evaluasi
Untuk mempertahankan kualitas bibit sapi perah yang dihasilkan, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi sebagai berikut:
1. Monitoring dan evaluasi kualitas bibit dilakukan secara berkala dengan sampling acak minimal sekali setahun.
2. Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengumpulan data performan tubuh, performan produksi, performan reproduksi dan kesehatan sapi bibit.
Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pejabat fungsional pengawas bibit ternak di dinas yang membidangi fungsi peternakan di kabupaten/kota atau pejabat yang ditunjuk secara khusus oleh Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat.
C. Pelaporan
Pejabat fungsional pengawas bibit ternak atau petugas yang ditunjuk pada dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota wajib membuat laporan tertulis secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali dan laporan tahunan kepada Kepala Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota.  Di samping laporan tersebut di atas, setiap pelaku usaha pembibitan sapi perah wajib membuat laporan teknis dan administratif secara berkala untuk kepentingan internal, sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
dapat diadakan perbaikan secepatnya.
BAB VI
PENUTUP
Pedoman ini bersifat dinamis dan akan disesuaikan kembali apabila terjadi
perubahan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
kebutuhan masyarakat.

Ternak Domba

1. SEJARAH SINGKAT
Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil dometikasi manusia yang sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon) yang berasal dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Argali (Ovis amon) berasal dari Asia Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia.
2. SENTRA PETERNAKAN
Di Indonesia sentra peternakan domba berada di daerah Aceh dan Sumatra Utara. Di Aceh pada tahun 1993 tercatat sekitar 106 ribu ekor domba, sementara di Sumatera Utara sekitar 95 ribu ekor domba yang diternakan. Lahan yang digunakan untuk berternak di daerah Aceh berdasarkan data Puslit Tanah dan Agroklimat Deptan tahun 1979, seluas 5,5 juta hektar mulai dari kemampuan kelas I sampai VIII, sedangkan di Sumatera Utara luas lahan yang digunakan sekitar 7 juta hektar.
3. J E N I S
Domba seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae. Kita mengenal beberapa bangsa domba yang tersebar diseluruh dunia, seperti:

1) Domba Kampung adalah domba yang berasal dari Indonesia
2) Domba Priangan berasal dari Indonesia dan banyak terdapat di daerah Jawa Barat.
3) Domba Ekor Gemuk merupakan domba yang berasal dari Indonesia bagian Timur seperti Madura, Sulawesi dan Lombok.
4) Domba Garut adalah domba hasil persilangan segi tiga antara domba kampung, merino dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan.

Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada 2 bangsa domba yang terkenal, yakni domba ekor gemuk yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat

4. MANFAAT
Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil.
5. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi untuk peternakan domba sebaiknya berada di areal yang cukup luas, udaranya segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan ternak, memiliki sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimal 10 meter), relatif dekat dari pusat pemasaran dan pakan ternak.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.Penyiapan Sarana dan Peralatan

  1. Perkandangan
    Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran sesuai dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi kandang harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar tidak kebanjiran. Atap kandang diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki daya serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia.

    Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:

a. Kandang induk/utama, tempat domba digemukkan.Satu ekor domba membutuhkan luas kandang 1 x 1 m.
b. Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya selama 3 bulan. Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m dan anak domba memerlukan luas 0,75 x 1 m.
c. Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai pemacak seluas 2 x 1,5 m/pemancak
  1. Di dalam kandang domba sebaiknya terdapat tempat makan, palung makanan dan minuman, gudang makanan, tempat umbaran (tempat domba saat kandang dibersihkan) dan tempat kotoran/kompos.Tipe dan model kandang pada hakikatnya dapat dibedakan dalam 2 tipe, yaitu:
a. Tipe kandang Panggung
Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran dan air kencingnya tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu yang telah diawetkan, Tinggi panggung dari tanah dibuat minimal 50 cm/2 m untuk peternakan besar. Palung makanan harus dibuat rapat, agar bahan makanan yang diberikan tidak tercecer keluar.
b. Tipe kandang Lemprak
Kandang tipe ini pada umumnya digunakan untuk usaha ternak domba kereman. Kandang lemprak tidak dilengkapi dengan alas kayu, tetapi ternak beralasan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang tidak dilengkapi dengan palung makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pemberian pakan sengaja berlebihan, agar dapat hasil kotoran yang banyak. Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1-6 bulan.
6.2. Peyiapan Bibit
Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.

1) Pemilihan Bibit Calon Induk
a. Calon Induk: berumur 1,5-2 tahun, tidak cacat, bentuk perut normal, telinga kecil hingga sedang, bulu halus, roman muka baik dan memiliki nafsu kawin besar dan ekor normal
b. Calon Pejantan: berumur 1,5-2 tahun, sehat dan tidak cacat, badan normal dan keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor/lebih, tonjolan tulang pada kaki besar dan mempunyai buah zakar yang sama besar serta kelaminnya dapat bereaksi, mempunyai gerakan yang lincah, roman muka baik dan tingkat pertumbuhan relatif cepat.
2) Reproduksi dan Perkawinan
Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.

a. Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai pada saat domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina.
b. Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan 12 bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba betina dalam keadaan birahi.
3) Proses Kelahiran
Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran anak domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang kering. Bahan untuk alas kandang dapat berupa karung goni/jerami kering. Obat yang perlu dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar.

Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik dan perilakunya sebagai berikut:
a. Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
b. Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
c. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.
d. Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
e. Sering kencing.

Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah, anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak domba yang baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas. Biasanya induk domba akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih.

6.3. Pemeliharaan

1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang dan peralatan dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat pakan dan tempat minum dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu dilakukan pembersihan rumput liar di sekitar kandang. Kandang ternak dibersihkan seminggu sekali.
2) Pengontrolan Penyakit
Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan dari yang sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada domba-domba yang sehat.
3) Perawatan Ternak
Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan diberi minum dan makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan makanan penguat lainnya. Selain itu, induk domba harus dimandikan. Anak domba (Cempe) yang baru dilahirkan, dibersihkan dan diberi makanan yang terseleksi. Cempe yang disapih perlu diperhatikan. pakan yang berkualitas dalam bentuk bubur tidak lebih dari 0,20 kg satu kali sehari.

Perawatan ternak dewasa meliputi:

a. Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali. dengan cara disikat dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah sinar matahari pagi.
b. Mencukur Bulu
Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan minimal 6 bulan sekali dan disisakan guntingan bulu setebal kira-kira 0,5 cm. Sebelumnya domba dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan dapat dijadikan bahan tekstil. Keempat kaki domba diikat agar tidak lari pada saat dicukur.Pencukuran dimulai dari bagian perut kedepan dan searah dengan punggung domba
c. Merawat dan Memotong Kuku
Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau rantan, pisau kuku atau gunting.
4) Pemberian Pakan
Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan sebagai berikut:

a. Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja, meksiko dan rumput alam.
b. Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan siratro.
c. Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon, daun ketela rambat dan daun beringin.
d. Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap dan biji kapas.

Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran tersebut adalah:

a. Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
b. Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
c. Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
d. Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
e. Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas

Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah sebagai berikut:

a. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
b. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
c. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
d. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
e. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280 kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
f. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440 kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
g. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
h. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
i. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
j. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gr/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
k. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
l. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
m. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
n. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
o. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
p. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
q. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
r. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
s. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
t. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
u. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
5) Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali vaksinasi dapat dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba. Vaksinasi mulai dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1 bulan, selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa diberikan adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin AE, dan Vaksin SE (Septichaemia Epizootica).
6) Pemeliharaan Kandang
Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal satu minggu sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, membersihkan lantai atau alas, penyemprotan dan pengapuran kandang untuk disinfektan.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1) Penyakit Mencret
Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba berusia 3 bulan. 
Pengobatan:
antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut.
2) Penyakit Radang Pusar
Penyebab: alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan Actinomyces necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya cempe usia 2-7 hari.
Gejala : terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba akan kesakitan.
Pengobatan: dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan rivanol (Desinfektan)
3) Penyakit Cacar Mulut
Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan.
Gejala :
cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian.
Pengendalian : dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau pinicillin.
4) Penyakit Titani
Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan.
Gejala : domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan sampai keseluruh badan Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos calcicus dan Magnesium.
5) Penyakit Radang Limoah
Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya cepat dan dapat menular ke manusia
Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.
Gejala :
suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang.
Pengendalian :
dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular.
6) Penyakit Mulut dan Kuku
Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku.
Penyebab:
virus dan menyerang semua usia pada domba
Gejala :
mulut melepuh diselaputi lendir.
Pengendalian :
membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku dilakukan dengan merendam kuku dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.
7) Penyakit Ngorok
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.
Gejala : nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar lendir berbuih dan sulit tidur.
Pengendalian : menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan.
Penyakit Perut Kembung
Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang masih diselimuti embun. 
Gejala :
lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi
Pengendalian : memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.
9) Penyakit Parasit Cacing
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini. 
Penyebab:
cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata). 
Pengendalian :
diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat
minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220
mg/kg berat tubuh domba.
10) Penyakit Kudis
Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba.
Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis. Gejala :tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor.
Pengendalian : dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
11) Penyakit Dermatitis
Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit domba.
Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia domba.
Gejala : terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat genital. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu.
Pengendalian : menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.
12) Penyakit Kelenjar Susu
Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air susu yang diisap cempe tercemar.
Penyebab: ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan.
Gejala : ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang.
Pengendalian : pemberian obatobatan antibiotika melalui air minum.

Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada domba dapat dilakukan dengan:

a) Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
b) Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.
c) Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan mangannya.
d) Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan.
e) Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
f) Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu.
g) Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
h) Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.
8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya domba adalah karkas (daging)
8.2. Hasil Tambahan
Hasil tambahan dari budidaya domba adalah bulunya (wool) yang dapat di jadikan sebagai bahan tekstil.
8.3. Pembersihan
Sebelum dipotong ternak dibersihkan dengan cara mencuci kaki domba dan menyemprotkan air diatas kepala ternak agar karkas yang dihasilkan tidak tercemar oleh bakteri dan kotoran.
9. PASCA PANEN
9.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan domba agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:

1) Ternak domba harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2) Ternak domba harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3) Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4) Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
9.2. Pengulitan
Pengulitan pada domba yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit domba dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit domba dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
9.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah domba dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut domba.
9.4. Pemotongan Karkas
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis usaha domba selama 136 hari di Bogor tahun 1995 adalah sebagai berikut:

1) Biaya produksi

a. Lahan
- Sewa tanah 700 m2 (5 bulan) Rp. 100.000,-
b. Bibit
- Domba lepas sapih 100 ekor@ Rp.40.000,- Rp. 4.000.000,-
c. Bangunan dan peralatan
- Kandang ukuran 3,5 m x 18,75 m (2 buah) :
- Bambu 360 batang @ Rp. 2.000,- Rp. 720.000,-
- Papan kayu panjang 2 m (352 buah) @ Rp. 2.000,- Rp. 704.000,-
- Paku reng 8 kg @ Rp. 4.000,- Rp. 32.000,-
- Paku usuk 10 kg @ Rp. 2.500,- Rp. 25.000,-
- Genting 6.480 buah @ Rp. 200,- Rp. 1.296.000,-
- Tali 42 m @ Rp. 700,00 Rp. 29.400,-
- Base Camp + gudang ukuran 5 m x 6 m :
- Bambu 28 batang @ Rp.2.000,- Rp. 56.000,-
- Papan kayu panjang 2 m 60 buah @ Rp.1.800,- Rp. 108.000,-
- Paku reng 2 kg @ Rp.4.000,00 Rp. 8.000,-
- Paku usuk 3 kg @ Rp.2.500,00 Rp. 7.500,-
- Genting 1.200 buah @ Rp.200,- Rp. 240.000,-
- Tali 15 m @ Rp. 700,- Rp. 10.500,-
- Peralatan
- Tempat minum dia 25 cm(100 buah) @ Rp.2.500,- Rp. 250.000,-
- Sekop 2 buah @ Rp.12.500,- Rp. 25.000,-
- Ember plastik diameter 25 cm (3 bh) @ Rp.2.500,- Rp. 7.500,-
- Tong bak air (2 buah) @ Rp.35.000,- Rp. 70.000,-
- Ciduk (4 buah) @ Rp.1.500,- Rp. 6.000,-
d. Pakan
- Hijauan/rumput 34.000 kg @ Rp.500,- Rp. 17.000.000,-
- Konsentrat Rp. 2.450.000,-
- Dedak 1.780 kg @ Rp.600,- Rp. 1.068.000,-
- Bungkil kelapa 890 kg @ Rp.1.250,- Rp. 1.112.500,-
- Tepung jagung 534,1 kg @ Rp.900,- Rp. 480.690,-
- Bungkil kacang tanah 284,9 kg @ Rp.1800,- Rp. 512.820,-
- Garam dapur 35,598 kg @ Rp.500,- Rp. 17.800,-
- Tepung tulang 23,472 kg @ Rp.600,- Rp. 14.100,-
- Kapur 23,472 kg @ Rp.600,- Rp. 14.100,-
e. Tenaga kerja
- Tenaga kerja 112 HKSP @ Rp.7.000,- Rp. 784.000,-
- Tenaga kerja 15 HKSP @ Rp.7.000,- Rp. 105.000,-
- Tenaga kerja pemeliharaan selama 136 hari Rp. 884.000,-
f. Biaya tak terduga 10% Rp. 3.213.800,-
Total Modal Usaha Tani Rp. 35.351.710,-

2) Pendapatan

a. Nilai penjualan ternak100 x 95% x Rp.400.000,- Rp. 38.000.000,-
b. Nilai penjualan pupuk kandang Rp 250.000,-
Total Pendapatan (II) Rp. 38.250.000,-
3) Keuntungan usaha : (II – I) Rp. 2.898.290,-

4) Parameter kelayakan usaha

Total Pendapatan
a. B/C Ratio = ___________________ = 1,08
Total biaya produksi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.