Beternak Sapi Perah


PROSPEK USAHA SAPI PERAH

A. kebutuhan Susu di Indonesia

Pada dasarnya, antara persediaan dan permintaan susu di Indonesia terjadi kesenjangan yang cukup besar. Kebutuhan atau permintaan jauh lebih besar daripada ketersediaan susu yang ada. Berdasarkan kondisi tersebut, usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif.

Susu yang dikonsumsi masyarakat di Indonesia umumnya berupa susu hasil olahan.   Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat belum terbiasa minum susu dalam keadaan segar. Kebiasaan seperti ini mengakibatkan susu segar yang dihasilkan peternak sapi perah lebih banyak dijual ke pabrik atau  Industri Pengolahan Susu (IPS) sebagai bahan baku susu olahan.

Kebutuhan susu olahan di Indonesia sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi baru terpenuhi dari dalam negeri sekitar 32 %, sisanya 68 % harus diimpor dari luar negeri. Dibandingkan dengan Negara-negara ASEAN lainnya yang konsumsi susunya sudah mencapai lebih dari 20 kg/ kapita /tahun, kebiasaan masyarakat Indonesia untuk minum susu sebaiknya ditingkatkan.

Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, susu banyak dikonsumsi dalam bentuk olahan. Beberapa jenis susu olahan yang beredar di masyarakat sebagai berikut :

  1. Susu bubuk (powder milk) yang diolah dengan cara dipanaskan sehingga airnya menguap dan yang tertinggal hanya bahan keringnya saja (BK), sehingga terbentuk susu bubuk.
  2. Susu kental manis, yaitu susu yang diuapkan airnya, sehingga bahan keringnya minimal tinggal 31 % dan lemak 9 % ditambah gula minimal 40%.
  3. Susu skim, yaitu susu yang diambil krim atau lemaknya.
  4. Filled milk, yaitu susu skim ditambah lemak tumbuhan sebagai pengganti lemak susu
  5. Susu gula minyak, yaitu susu skim ditambah gula dan minyak.
  6. Mentega, yaitu krim atau lemak susu yang diolah dengan cara diputar atau diaduk dalam tong susu.
  7. Keju, yaitu susu ditambah rennin (enzim didalam lambung anak hewan mamalia) dengan cara dibekukan.
  8. Youghurt yaitu susu ditambah starter berupa bekteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcos thermophillus. Bakteri ini membuat rasa enak dan mempermudah usus dalam mencernanya.
  9. Kefir atau susu ditambah yeast (ragi) dan bakteri asam laktat.
  10. Dali atau susu ditambah papain atau enzim papaya yang diambil dari getah pepaya yang dibekukan.
  11. Es krim, yaitu produk susu yang dibuat dari campuran susu (susu skim dan krim), gula, flavor (vanili atau coklat). Campuran tersebut kemudian dibekukan didalam alat pembuat es krim.

B. Keuntungan Usaha Peternakan Sapi Perah.

  1. Peternakan sapi perah termasuk usaha yang tetap, dari tahun ke tahun variasi konsumsi susu tidak banyak berubah, tidak ada musiman dan harga susu tidak banyak mengalami perubahan.
  2. Sapi perah sangat efisien dalam mengubah pakan menjadi protein hewani yaitu sebesar 33,6 % dan kalori sebesar 25,8 %.
  3. Jaminan pendapatan yang tetap, peternak sapi perah bisa memperoleh hasil dalam dua minggu atau sebulan sekali dan berlangsung secata tetap sepanjang tahun.
  4. Tenaga kerja yang tetap, usaha peternakan sapi perah menggunakan tenaga kerja secara terus menerus sepanjang tahun.
  5. Pakan yang relative mudah dan murah.
  6. Kesuburan tanah dapat dipertahankan dengan menggunakan kotoran sapi sebagai pupuk kandang.
  7. Sapi perah dapat menghasilkan pedet sebagai keuntungan lain.

C. Kelemahan Usaha Peternakan Sapi Perah.

Beberapa kelemahan usaha peternakan sapi perah sebagai berikut :

  1. Memerlukan modal yang relative lebih besar dibandingkan dengan usaha peternakan lain.
  2. Memerlukan manajer atau peternak yang terampil dan memiliki pengetahuan dan administrasi bisnis yang memadai dalam budidaya sapi perah.
  3. Usaha Peternakan sapi perah hanya bisa dilaksanakan di daerah-daerah tertentu.
  4. Adanya saingan berupa susu impor, sehingga harga susu dalam negeri harus lebih murah.

D. Persayaratan Menjadi Peternak Sapi Perah.

Untuk menjadi peternak sapi perah yang baik, peternak harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Mempunyai rasa sayang pada hewan.
  2. Mempunyai ketekunan dalam bekerja untuk waktu yang lama.
  3. Mempunyai pengetahuan dasar-dasar pemuliaan sapi perah, yaitu system perkawinan dan seleksi, pemberian pakan dan tatalaksana perkandangan sapi perah yang baik.
  4. Mengetahui masalah rumput atau hijauan sebagai pakan dan cara-cara menanam rumput atau hijauan tersebut.
  5. Mempunyai jiwa, semangat kerja sama dan hubungan yang baik dengan peternak lain.
  6. Dapat mengatasi kekecewaan.
  7. Dapat mengambil keputusan-keputusan yang baik dan tepat.
  8. Mempunyai kesabaran dan keikhlasan.

PEMELIHARAAN SAPI PERAH

A. Masa Praproduksi

Pada masa praproduksi, paling tidak ada 3 hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan, yaitu lahan untuk kandang dan tempat menanam rumput, ketersediaan air serta keberadaan bibit sapi perah.

Persiapan lahan.

lahan untuk kandang .

Lahan yang dibutuhkan untuk kandang berdasarkan keadaan sapi perah terbagi menjadi tiga,  yaitu :

Kandang seekor sapi masa produksi membutuhkan lahan seluas 380 x 140 cm = 5,32 m2. Luas lahan ini sekaligus termasuk selokan, jalan kandang dan tempat pakan.

Kandang sapi dara siap bunting sampai bunting membutuhkan lahan 12 x 20 m2 = 240 m2 untuk 10 ekor. Dalam hal ini sapi dara dilepaskan secara berkelompok.

Kandang seekor pedet membutuhkan lahan seluas 150 x 120 cm2 = 1,8 m2

Lahan untuk Penanaman Rumput

Usaha peternakan sapi perah sangat tergantung pada ketersediaan pakan hijauan. Pakan berupa hijauan ini bisa diperoleh dari lahan Pertanian dan hasil budidaya atau penanaman secara khusus. Agar peternak memiliki persediaan hijauan, keberadaan lahan untuk penanaman rumput mutlak diperlukan. Lahan untuk kebutuhan ini disesuaikan dengan jumlah sapi perah yang dipelihara. Menurut pengalaman , lahan seluas 1 ha bisa memenuhi kebutuhan hijauan sekitar 10 – 14 ekor sapi dewasa selama satu tahun.

Ketersediaan Air

Air mutlak dibutuhkan dalam usaha peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan susu yang dihasilkan 87% berupa air dan sisanya berupa bahan kering.Untuk mendapatkan  1 liter air susu, seekor sapi perah membutuhkan 3,5 – 4 liter air minum.  Dalam peternakan ini, air digunakan untuk minum sapi, memandikan sapi dan membersihkan kandang. Khusus untuk minum, sebaiknya sapi diberi minum secara ad libitum atau ada setiap saat.

Bibit

Bibit sapi perah yang akan dipelihara sangat menentukan keberhasilan usaha ini. Pemilihan bibit sebaiknya dipersiapkan dengan matang dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Genetik atau keturunan

Bibit sapi perah harus berasal dari induk yang produktivitasnya tinggi dan pejantan yang unggul. Hal ini disebabkan sifat unggul kedua tetua akan menurun kepada anaknya.        Akanlebih baik lagi jika bibit tersebut berasal dari induk yang produktivitasnya tinggi yang dikawinkan dengan pejantan unggul (elite bull). Cara mengetahui garis keturunan adalah dengan menelusuri keterangan kedua tetua dan nenek moyangnya.

Bentuk ambing

Bentuk ambing pada sapi perah dapat menentukan kuantitas dan kualitas susu yang akan dihasilkan. Ambing yang baik adalah ambing yang besar, pertautan antarotot kuat dan memanjang sedikit kedepan, serta puting tidak lebih dari empat.

Eksterior atau Penampilan

Secara keseluruhan, sosok bibit sapi perah harus proporsional, tidak kurus dan tidak terlalu gemuk, kaki berdiri tegak dan jarak kaki kanan dan kaki kiri cukup lebar (baik kaki depan maupun belakang), serta bulu mengkilat. Perlu diketahui, besar tubuh tidak menjamin atau tidak menentukan kuantitas atau jumlah susu yang dihasilkan dan ketahanannya  terhadap penyakit.

Umur bibit

Umur bibit sapi perah betina  yang ideal  adalah 1,5 tahun dengan bobot badan sekitar 300 kg. sementara itu,  umur pejantan 2 tahun dengan bobot badan sekitar 350 kg.

B.    Masa Produksi

Pada masa produksi, peternak harus melakukan manajemen seccara optimal, sehingga hasil yang diperoleh optimal pula. Ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan pada masa produksi ini, karena tahapan-tahapan ini  memmpengaruhi produksi, yakni kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan. Tahapan-tahapan yang dimaksud meliputi manajemen perkandangan, tata laksana pemberian pakan, pengaturan  perkawinan, pengendalian penyakit, dan metode pemerahan.

a. Manajemen Perkandangan

Kandang sapi perah yang baik adalah kandang yang sesuai dan   memenuhi persyaratan kebutuhan dan kesehatan sapi perah. Persyaratan umum kandang untuk kandang sapi perah sebagai berikut :

  1. Sirkulasi udara cukup dan mendapat sinar matahari, sehingga kandang tidak lembap. Kelembapan ideal yang dibutuhkan sapi perah adalah 60-70%
  2. Lantai kandang selalu kering.
  3. Tempat pakan yang lebar sehingga memudahkan sapi dalam mengonsumsi pakan yang disediakan.
  4. Tempat air dibuat agar air selalu tersedia sepanjang hari.

b.  Jenis Kandang Berdasarkan Peruntukannya

Jika dilihat dari peruntukannya, kandang sapi perah dapat dibagi menjadi 5 jenis kandang, yakni kandang pedet (0-4 bulan), kandang sapi remaja (4-8 bulan), kandang sapi dara (8 bulan-2 tahun), kandang  sapi dewasa (lebih dari 2 tahun dan masa laktasi), dan kandang sapi yang akan beranak.

Kandang Pedet 0-4 Bulan

Pedet yang berusia 0-4 bulan harus dibuatkan kandang sendiri agar tidak bercampur dengan pedet atau sapi lainnya. Bisa pula dibuatkan penyekat atau penghalang antar kandang. Hal ini disebabkan pedet sangat rentan terhadap penyakit yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan pedet memiliki nnaluri menyusu sehingga jika disatukan bias saling mengisap dan menjilat. Kandang pedet lajimnya dibuat dari bahan bamboo atau kayu berukuran 95x150x130 cm (lebar  95 cm, panjang  150 cm, dan tinggi 130 cm).

Kandang Pedet Lepas Sapih (4-8 bulan)

Kandang yang diperlukan untuk pedet lepas sapih berusia 4-8 bulan berupa kandang system kelompok di dalam kandang koloni. Hal ini dimaksudkan agar sapi-sapi remaja ini lebih bebas bergerak sehingga tulang dan badannya kuat dan tidak terjadi persaingan dalam mendapatkan pakan. Karenanya, tempat pakan, tempat minum, dan tempat berteduh dibuat terpisah

Kandang Sapi Dara (8 bulan-2 tahun)

Kandang sapi dara dapat dibuat dengan  system koloni agar memudahkan pengontrolan saat birahi. Namun, jika kandang khusus sapi dara ini tidk ada (karena tidak mugkin dibuat akibat lahan yang terbatas), sapi dara bisa ditempatkan di kandang sapi dewasa.

Kandang Sapi Dewasa  atau Masa Produksi (Lebih dari 2 tahun dan Laktasi)

Sapi yang telah berproduksi dikelompokan dalam satu kandang. Pengelompokan ini sebaiknya berdasarkan tingkat produksi susu, sehingga sapi yang berproduksi tinggi tidak tidaak bercampur dengan sapi yang produksinya rendah. Dengan pengelompokan seperti ini, manajemen atau tata laksana pemberian pakan dapat dilakukan secara optimal.

Kandang sapi dewasa biasanya dibuat satu jajar dengan jumlah genap, karena satu bak air disediakan untuk 2 ekor sapi. Kandang per ekor sapi adalah panjangnya 180-200  cm, lebar 135-140 cm, lebar saluran kotoran 30-40 cm, dan lebar tempat pakan 80-100 cm.

Kandang Sapi Kering Kandang

Keberadaan kandang untuk sapi yang akan beranak atau kandang kering kandang sangat penting. Hal ini disebabkan  sapi yang akan beranak memerlukan exercise atau latihan persiapan melahirkan (bias  berupa jalan-jalan di dalam kandang) untuk merangsang kelahiran normal. Di kandang ini, sapi tidak diperah susunya selama sekitar 2 bulan. Dengan demikian, pakan yang di makan hanya untuk kebutuhan anak yang berada didalam kandungannya  dan kebutuhan hidupnya dalam mempersiapkan kelahiran.      Kandang sapi kering dapat dibuat secara koloni  untuk 3 – 4 ekor sapi tanpa disekat  satu sama lain. Ukuran ideal kandang sapi kering per ekor adalah 2-2,5 x 7 x 1 m (lebar 2-2,5 m , panjang 7 m dan tinggi 1 m).  Ukuran tempat pakan sama dengan ukuran tempat pakan di kandang sapi masa produksi , tempat pakan ini bias ditempatkan di tengah kandang.

C. Pengaturan Perkawinan.

Sapi-sapi yang dipelihara harus teridentifikasi dengan benar, yaitu diberi nomor telinga dan nama, hal ini diperlukan untuk mengetahui silsilah, baik induk maupun bapaknya, potensi produksi, umur sapi dan masa laktasi atau masa produksi.

Pemeliharaan pada Masa Pedet sampai Dara.

Jika pemeliharaan cukup baik, birahi pertama akan terjadi saat sapi berumur 14 – 16 bulan. Birahi pertama lebih banyak ditentukan oleh kondisi dan besar tubuhnya dibandingkan dengan dewasa kelamin.

Pengaturan Perkawinan saat Laktasi.

Jumlah sapi yang bunting sebaiknya tidak kurang dari 60 % jumlah sapi dewasa. Hal ini dimaksudkan agar produksi susu dapat dipertahankan sepanjang waktu, sehingga tidak terjadi masa banjir susu dan masa kering. Sebaiknya, 40 – 60 hari setelah beranak sapi dikawinkan kembali. Perkawinan sapi tersebut tidak boleh lebih dari 3 bulan sejak beranak. Sapi perkawinan yang berproduksi tinggi  dapat dilaksanakan sampai dengan 4 bulan masa laktasi. Hal ini dimaksudkan agar tercapai puncak produksi yang maksimal.

Metode perkawinan.

Perkawinan sapi perah dapat dilaksanakan dengan 2 cara :

  • kawin alam
  • kawin suntik (inseminasi buatan atau IB).

Periode birahi rata-rata 21 hari sekali, tetapi dapat pula sapi-sapi yang memiliki periode birahi bervariasi dari 17 – 26 hari. Lama masa birahi ini berlangsung selama 6 – 36 jam dengan rata-rata  18 jam untuk sapi betina dewasa dan 15 jam untuk sapi dara.

Tanda-tanda umum birahi sapi perah sebagai berikut :

  1. Sapi betina yang sedang birahi akan menaiki sapi betina yang lain.
  2. Sapi gelisah dan berjalan mondar-mandir.
  3. Keluar cairan yang kental, jernih dan berkaca-kaca dari alat kelaminnya.
  4. Kemaluan (vulva) berwarna merah, bengkak dan hangat.

Meskipun demikian ada pula beberapa sapi yang mempunyai sifat-sifat birahi diam (silent heat), yaitu sapi tidak memperlihatkan gejala-gejala birahi yang jelas seperti yang telah disebutkan.      Untuk mendapatkan persentase kebuntingan yang tinggi, biasanya dipakai pedoman perkawinan yang tepat. Perkawinan ini harus dilaksanakan dengan benar dan tepat waktu, karena masa berahi menentukan keberhasilan perkawinan dan kesehatan sapi yang jelas

Pedoman cara mengawinkan sapi perah berdasarkan waktu berahinya.

Birahi Dikawinkan Dikawinkan
  1. pagi ini
  2. Sesudah pukul 12.00
Harus hari ini

Harus siang ini atau besok pagi sebelum pukul 12 siang

Besok pagi akan terlambat

Besok sesudah pukul 12 siang akan terlambat.

E. Metode Pemerahan

Waktu Pemerahan

Pemerahan dilakukan 2 kali sehari , yaitu pada pagi dan sore hari. Namun jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari yakni pagi, siang dan sore hari.

Jarak pemerahan

Jarak pemerahan dapat menentukan jumlah susu yang dihasilkan. Jika jaraknya sama, yakni 12 jam, jumlah susu yang akan dihasilkan pada waktu pagi dan sore hari sama. Namun jika jarak pemerahan tidak sama, maka jumlah susu yang dihasilkan pada sore hari akan lebih sedikit daripada pagi hari.

Cara Pemerahan

Pemerahan yang baik dilakukan cara yang benar dan alat yang bersih.

Persiapan pemerahan.

  • membersihkan kandang dari segala kotoran.
  • Mencuci daerah lipat paha sapi yang akan diperah.
  • Memberi konsentrat kepada sapi yang akan diperah, sehingga ketika dilakukan pemerahan sapi sedang makan dan dalam keadaan tenang.
  • Membersihkan alat-alat pemerahan susu(ember dan alat takar susu) dan susu.
  • Membersihkan tangan pemerah (jika dilakukan secara manual dengan tangan).
  • Mencuci ambing dengan air bersih, kemudian melapnya dengan lap bersih.
  • Membersihkan mesin pemerah, terutama karet penyedot yang berkontak langsung dengan ambing (jika pemerahan dilakukan dengan mesin pemerah). Karet penyedot ini harus dibersihkan dengan air panas.
  • Melakukan uji mastitis setiap sebelum melakukan pemerahan

Teknik pemerahan

Setelah tangan pemerah dan ambing dicuci bersih, pemerahan dilakukan menggunakan kelima jari tangan dengan tahapan sebagai berikut :

  • Tekan ibu jari dan jari telunjuk dengan posisi melingkari pangkal putting, sehingga susu tidak dapat kembali keputing.
  • Tekan jari tengah ke puting susu agar susu memancar keluar.
  • Tekan jari manis ke putting dan perah menggunakan tekanan yang tetap, tetapi putting jangan ditarik kebawah.
  • Akhirnya tekan jari kelingking  ke putting dan perahlah dengan seluruh jari tangan sampai susu keluar semua.
  • Lepaskan tekanan tangan dari putting dengan membuka semua jari, sehingga putting berisi susu kembali.  Ulangi cara tersebut menggunakan tangan yang lain.
  • Jika susu yang keluar sudah sangat sedikit, tekan ambing menggunakan siku dan periksa apakah susu telah keluar semua. Kadang-kadang menekan ambing menggunakan siku membuat sisa-sisa susu masuk kedalam putting
  • Agar sisa-sisa tersebut keluar, perahlah putting menggunakan ibu jari dan jari telunjuk.
  • Setelah selesai diperah, putting dibersihkan dan disemprot atau dicelupkan ke larutan disinfektan agar bakteri tidak masuk kedalam lubang putting susu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS,

KUANTITAS DAN SUSUNAN SUSU SAPI PERAH

A. Bangsa atau Rumpun Sapi

Setiap bangsa sapi mempunyai sifat-sifat yang berbeda dalam menghasilkan susu, serta kadar lemak dan warna susu yang dihasilkan. Jumlah susu yang dihasilkan sapi FH tertinggi jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa sapi perah lainnya, baik didaerah iklim sedang maupun didaerah tropis. Bangsa sapi juga menentukan susunan susu yang dihasilkan, seperti tertera dai tebel berikut ini :

Bangsa Sapi

Air

(%)

Protein (%)

Lemak

(%)

Laktosa

(%)

Abu

(%)

BK

(%)

Jersey

Guernsey

Ayrrshire

FH

Shorthorn

85,27

85,45

87,10

88,01

87,43

3,80

3,84

3,34

3,15

3,32

5,41

4,98

3,85

3,45

3,36

5,04

4,98

5,02

4,65

4,89

0,75

0,75

0,69

0,68

0,73

14,73

14,55

12,90

11,57

12,57

B. Lama Bunting

Sapi yang telah dikawinkan dan bunting akan menghasilkan susu lebih sedikit dari susu yang tidak bunting. Lama bunting sapi perah adalah 9 bulan. Produksi susu akan semakin menurun terutama saat sapi bunting 7 bulan sampai beranak.

C. Masa Laktasi

Masa laktasi adalah masa sapi sedang menghasilkan susu yaitu selama 10 bulan antara saat beranak dan masa kering. Produksi susu perhari mulai menurunsetelah laktasi dua bulan. Demikian pula kadar lemak susunya, mulai menurun setelah 1 – 2 bulan masa laktasi. Dari 2 – 3 bulan masa laktasi, kadar lemak susu mulai konstan, kemudian naik sedikit.

D. Besar Sapi.

Sapi-sapi yang badannya besar akan menghasilkan susu yang lebih banyak daripada sapi-sapi yang berbadan kecil, meskipun bangsa dan umurnya sama. Hal ini disebabkan sapi yang badannya besar akan makan lebih banyak, sehingga menghasilkan susu yang lebih banyak karena metabolisme tinggi.

E. Estrus atau Birahi.

Saat sapi mengalami birahi biasanya produksi susunya menurun.

F. Umur Sapi

Sapi- sapi yang beranak pada umur yang lebih tua  (3 tahun) akan menghasilkan susu  yang lebih banyak daripada sapi-sapi yang beranak pada umur muda (2 tahun). Produksi akan terus meningkat dengan bertambahnya umur sapi  hingga berumur 7 – 8 tahun. Setelah umur tersebut , produksi akan menurun sedikit demi sedikit sampai umur 11 – 12 tahun. Hal ini disebabkan kondisi tubuh telah menurun dan senilitas (ketuaan).

G. Calving Beranak atau Selang Beranak.

Selang beranak yang optimal adalah 12 dan 13 bulan. Jika selang beranak diperpendek akan menurunkan produksi susu sebesar 3,7 – 9 % pada laktasi yang sedang berjalan atau yang akan dating. Jika selang beranak diperpanjang sampai 450 hari, laktasi yang sedang berlaku dan laktasi yang akan dating akan meningkatkan susu yang dihasilkan sebesar 3,5 %. Meskipun demikian, jika ditinjau dari segi ekonomi akan merugikan karena susu yang dihasilkan tidak sepadan jika dibandingkan dengan pakan yang diberikan.

H. Masa Kering.

Produksi susu pada laktasi kedua dan berikutnya dipengaruhi oleh lamanya masa kering yang lalu atau sebelumnya. Pada setiap individu sapi betina, produksi susu akan naik dengan bertambahnya masa kering sampai 7-8 minggu.

I    Frekuensi Pemerahan.

Pemerahan dilakukan 2 kali sehari , yaitu pada pagi dan sore hari. Namun jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari yakni pagi, siang dan sore hari. Semakin sering sapi diperah, hasil susu akan naik seperti yang ditunjukan oleh tabel berikut :

Umur Sapi Diperah 3 kali sehari Diperah 4 kali sehari
2 tahun3 tahun

4 tahun

20% lebih banyak daripada 2 kali diperah17 % lebih banyak daripada 2 kali diperah

15 % lebih banyak daripada 2 kali diperah

35 % lebih banyak daripada 2 kali diperah30 % lebih banyak daripada 2 kali di perah

26 % lebih banyak daripada 2 kali diperah

Tagged:

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: